News Room, Senin ( 28/11 ) Kiai Haji Ahmad Bakri, Desa Pandian, Kabupaten Sumenep tak hanya dikenal sebagai ulama besar di bidang ilmu ushul (Tauhid). Beliau juga diketahui meninggalkan beberapa karya tentang ilmu tersebut. Namun yang masih ada salinannya hanya satu kitab saja.
Selepas mengaji pada Raden Ario Abdul Ghani Atmowijoyo alias Tearjha Atmo, disamping mengajar ilmu tauhid pada para santrinya, kiai Bakri juga menulis kitab dasar mengenai ilmu ini, yang meliputi syarah Asmaul Husna dan aqaid yang lima puluh. Di sampul kitab tertulis Kitab al-Musamma bimawaa izhil Ihsaani fii I tiqadi manittaba adz-Dzikra wa Khasyiarrahman.
Kitab tersebut dibagi menjadi dua bab, yang pertama Kitab risalah yang beliau namai al-Qaulul Unsaa fii Syarhi Asmaa~ilLaahil Husnaa, dan yang kedua kitab risalah fii ilmittauhiid yang beliau namai Mafaakhirul Quluubi was Suruur.
Kitab tersebut beliau tulis dalam tulisan Arab berbahasa Madura. Tujuannya, seperti yang tertuang dalam muqaddimah kitab tersebut, e basa-akan Madura sopaja gampanga ngarte monggu ka oreng se bhudhu bangsa kaule (ditulis dalam bahasa Madura, supaya mudah dimengerti khususnya untuk orang yang bodoh seperti saya). Kitab ini dicetak oleh kiai Bakri pada tanggal 8 November 1934 Masehi, pada percetakan milik Sayyid Ali al-Idrus, Keramat, Batavia.
Mengenai ilmu Ushul ini, seperti yang dikatakan oleh kiai Bakri kepada santrinya, bahwa ia hanya mengajarkan ilmu dasarnya saja. “Seandainya semua yang diajarkan guru saya (Tearja Atmo) itu saya keluarkan semua, maka saya tidak akan dipanggil orang dengan sebutan Haji Bakri, melainkan Haji Kafir,” katanya, ditirukan oleh salah satu putranya, almarhum Kiai Shadiq Bakri.
Dulu, di Sumenep, dari cerita Kiai Shadiq, memang sempat gempar. Pasalnya pengajian ilmu Tauhid yang diajarkan kiai Bakri kepada santrinya sempat dipermasalahkan oleh para ulama setempat di masa itu. Bahkan beberapa ulama menganggap kiai Bakri sudah sesat dan bisa menyesatkan umat yang masih awam. Oleh karenanya, Kiai Zainal Arifin Tarate memanggil kiyai Bakri dengan disaksikan para ulama besar lainnya di Sumenep.
Lalu kiai Zainal berkata, “Haji Bakri, kamu dapat dari mana ilmu tersebut, kok saya tidak tahu, padahal kamu dan saya masih satu guru?”. Perlu diketahui bahwa Kiai Zainal Arifin juga merupakan murid utama Tearjha Atmo. Lalu Kiai Bakri menunjukkan kitab ajaran dari Tearjha Atmo.
Tak lama kemudian, Tearjha Atmo lalu datang tiba-tiba ke pertemuan tersebut, lalu berkata, “mon ajhara hokom (fiqih) ka Haji Zainal Arifin, mon ajhara elmo Ushul ka Haji Bakri” (kalau mau belajar fiqih ke Kiai Zainal, dan kalau mau belajar ilmu ushul ke Kiai Bakri). Tearjha Atmo juga berpesan bahwa ilmu ushul itu juga bertingkat, sehingga yang masih belum paham tingkat dasar tentu tidak akan bisa mempelajari tingkat selanjutnya. ( M. Farhan, Fer )