News Room, Jumat ( 14/10 ) Salah satu sumber pemicu terjadinya banyak nelayan luar daerah datang dan menangkap ikan di perairan Kabupaten Sumenep, karena keterbatasan alat transportasi dan alat tangkap yang dimiliki dan digunakan oleh nalayan di Kabupaten paling ujung timur di Madura ini. Hal tersebut dibenarkan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sumenep, Ir. Moh Jakfar, MM.
Menurutnya, perahu dan alat tangkap yang digunakan oleh para nelayan di Kabupaten Sumenep selama ini sangat terbatas, selain kecil dan masih memakai alat tradisional. Sedangkan nelayan luar daerah, mayoritas kapasitas perahu yang digunakan besar dan alat tangkapnya modern.
“Kondisi tersebut menjadi faktor terjadinya distorsi sehingga menyebabkan terjadinya konflik sosial.“ ungkapnya.
Diakui pula, dari segi peralatan dan kapasitas perahu nelayan lokal dengan nelayan luar daerah memang terjadi ketimpangan. Sehingga hal tersebut sering menjadi keluhan nelayan lokal. Karena itu untuk menekan terjadinya konflik yang berkelanjutan, DKP Kabupaten Sumenep mencoba mencari solusi dengan cara mengajukan bantuan kapal kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Dijelaskan, tahun ini DKP mengajukan sebanyak 15 unit, namun yang mendapat disposisi sebanyak 6 unit, dengan kapasitas perahu bervariasi, mulai dari 30 GT, 20 GT, 10 GT, hingga yang berkapasitas dibawah 5 GT.
Namun, pihaknya merasa kesulitan karena calon penerima harus berbentuk koperasi nelayan. Sedangkan di Kabupaten Sumenep, koperasi nelayan sangat terbatas. Dan itu menjadi salah satu penyebab terkendalanya penyaluran bantuan tersebut.
Karena hingga saat ini yang semangat hanya ada dua, yakni Koperasi nelayan di Pulau Pagerungan, Kecamatan Sapeken, dan Koperasi nelayan di Desa Padangdangan, Kecamatan Pasongsongan.
“Kami harapkan bantuan perahu yang nantinya juga dilengkapi dengan alat tangkap ikan yang memadai tersebut akan membuat nelayan lokal bisa bersaing dengan nelayan luar.” tambahnya. ( Ren, Fer )