News Room, Kamis ( 11/12 ) Sorotan keterpurukan sektor pendidikan di Kabupaten Sumenep terus bermunculan. Malah banyak yang menilai sejak 5 tahun terakhir belum ada perubahan yang signifikan yang dirasakan langsung oleh masyarakat Sumenep. Terbukti, masih banyak warga Sumenep yang buta huruf. Bahkan untuk persoalan buta aksara, Kabupaten Sumenep menduduki peringkat ke 2 se Jawa Timur dan ke 3 se Indonesia. Selain SDM pendidikan kurang, juga fasilitas pendidikan yang tidak mendukung, sebab masih banyak sekolah dibiarkan rusak. Padahal, pemerintah telah mencanangkan pengalokasian anggaran sebanyak 20 persen, namun belum mampu menjawab segala persoalan pendidikan, utamanya di daerah-daerah yang terpencil. Hal tersebut disampaikan aktifis dunia pendidikan dari Pembantu Ketua I STIT Aqidah Usymuni, Zaitur Rohim di ruang kerjanya, Kamis (11/12). Menurutnya, pendidikan di Sumenep belum tampak prestasi khasnya. Sebab bila diamati, tidak ada rencana strategis yang dirancang sistematis. Meskipun ada prestasi di bidang pendidikan yang sifatnya kondisional (faktor alamiah), namun di bidang keagamaan, Sumenep sudah sangat harmonis. Selanjutnya Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, Drs. H. Ahmad Shadik, M.Si mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir, pihaknya banyak memperbaiki sekolah rusak tahun 2012, Dinas Pendidikan memperbaiki kurang lebih 1.064 ruang, baik rusak ringan, sedang, maupun rusak berat, dengan menggunakan Dana Anggaran Khusus (DAK). Demikian juga pada tahun 2013. Namun, setelah diinventarisasi hingga 2014 masih ada sekitar 1.644 ruang yang perlu direhab. ( JuP-01, Fer )