News Room, Rabu ( 05/10 ) Petani garam di Sumenep harus menerima kenyataan karena produksi garam dalam beberapa pekan terakhir ini mengalami penurunan akibat hujan terus mengguyur lahan garam. Bahkan sejumlah lahan garam sudah banyak tergenang air hujan.
Ketua Paguyuban Petani Garam Rakyat Sumenep (PERRAS), Hasan Basri kepada wartawan, Rabu (05/10) mengungkapkan, akibat banyaknya air hujan yang menggenangi tambak garam, akhirnya petani harus membuang air hujan, agar bisa tetap mempertahankan kualitas garam.
“Sebab, petani garam sangat bergantung pada sinar matahari, karena itu petani terpaksa banyak yang panen sebelum waktunya.”ungkapnya.
Dikatakan, sebenarnya ketika cuaca panas petani garam membutuhkan waktu 10 hari untuk panen, namun ketika ada hujan tentunya mempengaruhi produksi garam. Apalagi menggunakan geomembran yang merupakan bantuan dari Pemerintah tetap berpengaruh pada derajat bumi, sehingga kuantitas air turun dan mengurangi kualitas garam, jika dibandingkan dengan garam di tanah biasa.
Karena itu tegas Hasan, dengan kondisi yang terjadi saat ini, para petani berharap ada perhatian dari Pemerintah, seperti bantuan kesejahteraan dan semacamnya, sehingga mampu meringankan beban petani garam.
“Diharapkan pula ada perhatian terhadap nasib petani garam rakyat utamanya pada serapan dan harga garam.”pungkasnya. ( Ren, Fer )