News Room, Senin ( 18/07 ) Negeri ini belum memiliki visi dan misi pendidikan yang benar, Pancasilais dan solid. Diakui atau tidak, pemerintah masih suka mencoba-coba berbagai sistem pendidikan dengan alasan peningkatan kualitas. Karena setiap ganti menteri ada kecenderungan ganti kebijakan, bahkan sistem yang satu belum dipahami, sudah ganti sistem baru.
Hal tersebut disampaikan mantan anggota Dewan Pendidikan Sumenep, Taufik Yuspison, M.Pd kepada News Room, Senin (18/07).
Ia mengatakan, salah satu akses dari kebijakan yang berubah-ubah, maka muncullah ke tidak adilan dalam pendidikan. Tidak mengherankan bila masyarakat menyebut sekolah menengah (terutama SMP dan SMA) ada yang berlabel favorit atau top, walaupun sekolah tersebut jauh dari tempat kediamannya.
Selanjutnya buntut dari pengkotak-kotakan itu, maka sistem rekrutmen siswa menjadi mencemaskan para orang tua merasa runyam dan pusing memikirkan sekolah anak-anaknya yang berada di sekolah negeri atau swasta. Sebab ternyata biayanya jauh dari yang dibayangkan, bahkan dengan adanya Komite Sekolah, banyak kegiatan bisa dimunculkan. ( JuP-01, Fer )