Media Center, Kamis ( 01/02 ) Keris pusaka dan sejenisnya, bagi warga Madura merupakan sebuah benda
yang sakral. Meski kesakralan itu tidak serta merta disandarkan pada
benda tersebut saja, sehingga walaupun memandang pusaka sebagai benda
yang sakral, namun mayoritas para tetua di Madura tetap memandang benda
itu sebagai sarana. Namun, jikalau ada kekuatan atau kekuasaan di balik benda itu, semata-mata berasal dari Yang Maha Kuasa.
“Para ahli pusaka kuna sudah banyak menjelaskan mengenai pusaka. Mereka
justru berusaha menghapus anggapan atau tahayyul sebagian masyarakat
dalam memahami fungsi pusaka,”kata pemerhati sejarah di Sumenep, RB.
Muhlis pada Media Center.
Muhlis lantas menyebut Sejarahwan
Legendaris Madura, RTA. Zainalfattah, dalam karangan atau tulisannya
tentang Keris dalam pengantarnya menyebut anggapan keliru tentang keris
bisa membuat seseorang masuk kategori musyrik atau menduakan Allah SWT,
sehingga dalam bukunya, Zainalfattah bahwa pusaka sejenis obat bagi
orang sakit, yakni hanyalah sebab belaka, sedang yang menyembuhkan
adalah Allah.
“Itulah mengapa orang dulu membuat keris. Jadi
sebagai simbol do’a, makanya ada yang namanya seni pamor. Dan juga
ikhtiar. Misalnya dalam hal keselamatan. Namun, bukan untuk digunakan
dalam berkelahi dan bertengkar,” imbuhnya.
Menurut Zainalfattah,
orang dulu ketika isterinya hamil, lantas membuat sebilah keris. Benda
itu nantinya akan diperuntukkan bagi anak yang lahir jika laki-laki.
Seandainya yang lahir perempuan, maka keris itu nantinya akan diberikan
pada suami sang anak perempuan itu tadi, kelak.
“Pembuatannya itu
pun ada prosesnya. Tidak serta merta mencari sebilah besi lalu dibawa ke
pandai keris, atau tanpa bawa apa-apa hanya cukup pesan dibuatkan
keris,” jelas Muhlis.
Konon, besi calon keris itu dipuasai. Sampai
mendapatkan petunjuk yang baik. Kemudian besi itu dibiarkan di tempat
ramai. Jika masih terlihat oleh orang lain, besi itu lantas dibawa
pulang lagi. “Riyadoh lagi, yaitu melanjutkan puasa. Kemudian
dibiarkan lagi di tempat ramai. Jika tidak terlihat oleh orang lain,
besi tersebut, maka baru kemudian dibawa ke pandai keris. Besi yang
dibawa itu disebut para ahli pusaka dengan sebutan besi calon,” kata
Muhlis. ( M Farhan M, Esha )