Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 01-02-2018
  • 3232 Kali

Kenapa Orang Madura Membuat Keris Pusaka Dan Sejenisnya?

Media Center, Kamis ( 01/02 ) Keris pusaka dan sejenisnya, bagi warga Madura merupakan sebuah benda yang sakral. Meski kesakralan itu tidak serta merta disandarkan pada benda tersebut saja, sehingga walaupun memandang pusaka sebagai benda yang sakral, namun mayoritas para tetua di Madura tetap memandang benda itu sebagai sarana. Namun, jikalau ada kekuatan atau kekuasaan di balik benda itu, semata-mata berasal dari Yang Maha Kuasa.

“Para ahli pusaka kuna sudah banyak menjelaskan mengenai pusaka. Mereka justru berusaha menghapus anggapan atau tahayyul sebagian masyarakat dalam memahami fungsi pusaka,”kata pemerhati sejarah di Sumenep, RB. Muhlis pada Media Center.

Muhlis lantas menyebut Sejarahwan Legendaris Madura, RTA. Zainalfattah, dalam karangan atau tulisannya tentang Keris dalam pengantarnya menyebut anggapan keliru tentang keris bisa membuat seseorang masuk kategori musyrik atau menduakan Allah SWT, sehingga dalam bukunya, Zainalfattah bahwa pusaka sejenis obat bagi orang sakit, yakni hanyalah sebab belaka, sedang yang menyembuhkan adalah Allah.

“Itulah mengapa orang dulu membuat keris. Jadi sebagai simbol do’a, makanya ada yang namanya seni pamor. Dan juga ikhtiar. Misalnya dalam hal keselamatan. Namun, bukan untuk digunakan dalam berkelahi dan bertengkar,” imbuhnya.

Menurut Zainalfattah, orang dulu ketika isterinya hamil, lantas membuat sebilah keris. Benda itu nantinya akan diperuntukkan bagi anak yang lahir jika laki-laki. Seandainya yang lahir perempuan, maka keris itu nantinya akan diberikan pada suami sang anak perempuan itu tadi, kelak.

“Pembuatannya itu pun ada prosesnya. Tidak serta merta mencari sebilah besi lalu dibawa ke pandai keris, atau tanpa bawa apa-apa hanya cukup pesan dibuatkan keris,” jelas Muhlis.

Konon, besi calon keris itu dipuasai. Sampai mendapatkan petunjuk yang baik. Kemudian besi itu dibiarkan di tempat ramai. Jika masih terlihat oleh orang lain, besi itu lantas dibawa pulang lagi. “Riyadoh lagi, yaitu melanjutkan puasa. Kemudian dibiarkan lagi di tempat ramai. Jika tidak terlihat oleh orang lain, besi tersebut, maka baru kemudian dibawa ke pandai keris. Besi yang dibawa itu disebut para ahli pusaka dengan sebutan besi calon,” kata Muhlis. ( M Farhan M, Esha )