News Room, Rabu ( 02/11 ) Sastrawan Sumenep, Syaf Anton WR dalam sebuah orasi budayanya mengatakan bahwa, bangsa kita sekarang ini tengah mengalami disorientasi budaya; kehilangan arah dan hampir saja kehilangan jati diri. Hal ini tentu sangat merisaukan bagi kita, khususnya bagi generasi muda, para remaja, lebih-lebih para pelajar di sekolah-sekolah. Bahkan ada sejumlah pihak mengatakan, bahwa bangsa kita sekarang ini mengalami dismotivasi budaya, yang selanjutnya bisa memungkinkan kehilangan motivasi luhur dalam menjalankan langkah-langkahnya ke depan.
“Bahkan banyak pihak menyebut bahwa saat ini Indonesia sedang dalam masa dependency budaya, kekuatan bangsa luar demikian kuatnya menekan dari segala arah, dan akibatnya bangsa ini mengalami apa yang disebut sebagai ketergantungan budaya. Tergantung pada budaya global yang berada di bawah rezim kendali budaya Amerika, Eropa, Jepang, Cina, India dan Korea,” kata Anton.
Persoalan besar yang menurut Anton tidak bisa dibiarkan, karena bangsa dan negara tidaklah mungkin berjalan mundur. Persoalan yang tak mungkin dibiarkan begitu saja terlantar, sebab realitas yang terjadi bukan lagi berdasarkan dari data-data karena banyak hal yang harus diperhatikan lebih dalam lagi, banyak hal yang harus diurus dan dikembangkan, khususnya bagi penerus bangsa.
Ironisnya yang terjadi pada generasi bangsa disebutnya telah terjadi ketimpangan pilihan, kesimpang-siuran arah dan bahkan menjelma keinginan-keinginan yang salah. Tuduhan-tuduhan pada generasi akhir ini disebut-sebut sebagai generasi rawan kriminalitas, generasi yang tak mau diatur, generasi teknologi yang ditentukan oleh aplikasi-aplikasi dunia maya, generasi yang tidak kompromis terhadap nilai-nilai ajaran lama. Dan kenyataannya persoalan demi persoalan muncul dengan berbagai akibatnya.
“Apakah kita pernah bertanya, mengapa harus mereka perbuat, apa alasan mereka melakukan tindakan macam itu. Saya terenyuh ketika melihat terjadinya penangkapan-penangkapan kalangan remaja di jalanan, kemudian ditekan dengan pasal-pasal hukum, lalu dieksploitasi media massa secara terbuka. Kita hanya diam, mencibir, mencela dan bahkan menekan mereka agar dihukum berat. Sekali lagi saya tanyakan, mengapa mereka lakukan. Dalam anggapan saya, karena mereka tidak diberi ruang, tidak diberi peluang untuk menunjukkan kreatifitasnya. Garis hubungan mereka dengan dunia kreatifitas seolah-olah ditutup. Akhirnya mereka menjadi liar tanpa arah,” kata Anton.
Anton lantas mempertanyakan juga, sejauh mana gerakan masyarakat, kelompok adat, para tokoh dan bahkan pemerintah, khususnya yang membidangi pengembangan potensi generasi ini memberi jalan mulus bahwa kemampuan mereka melebihi dari generasi sebelumnya. Bagaimana mungkin kalangan muda yang dianggap “liar” itu mampu menciptakan suasana marwah yang indah bila tanpa dibarengi oleh tangan-tangan halus dan bijak disamping kanan kirinya.
“Sementara di sisi lain, ketika mereka harus menempa ilmu di sekolah, lahan yang seharusnya merepresentasikan kearifan-kearifan sudah dimonopoli oleh tekanan-tekanan keilmuan pragmatis yang konon sebagai ilmu yang mampu membuka ruang luas dalam tatanan kehidupan masa depan. Ilmu yang menjanjikan bahwa para anak didik tidak akan kelaparan dan akan mengalami kemapanan pada kehidupan selanjutnya,” imbuhnya.
Realitas itu yang kemudian menurut Anton melahirkan ide gerakan sastra di tengah budaya global. Generasi muda, kalangan remaja maupun anak didik sekolah, menurutnya perlu dan harus diperkenalkan dunia sastra sejak awal, sejak dini, karena sastra adalah pelajaran yang sangat menyenangkan.
“Bagaimana tidak? Karena dalam belajar sastra ada banyak hal yang dapat diperoleh. Selain menyenangkan dan bermanfaat sekaligus memupuk serta mendalami nilai-nilai kehidupan,” kata Anton.
Sehingga menurut pendapat Anton, sangatlah salah atau minimal tidak tepat jika mengajarkan sastra hanyalah mengajarkan materi-materi sastra dengan menjejali otak siswa dengan berbagai ragam teori. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa teori sastra memang sangat membantu membedah sebuah karya sastra hingga ditemukan nilai-nilai moral yang dapat ditangkap kemudian diaplikasikan dalam kehidupan. ( M. Farhan, Fer )