News Room, Sabtu ( 16/06 ) Sejak dilaksanakannya pasar minggu tepatnya di sepanjang jalan depan Gedung Nasional Indonesia (GNI) hingga Depan Musium Kraton Sumenep oleh Pemerintah Kabupaten Sumenep, antusias para pedagang kaki lima di Sumenep cukup tinggi. Karena itu, untuk sementara masih dibatasi sebanyak 100 stand , hal itu sehubungan lahan yang ditempati masih terbatas. Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Sumenep, Drs. H. Syaiful Bahri, M.Si menjelaskan, untuk saat ini baru 60 stand yang terdiri dari milik Pemkab melalui dana DBHCT serta dari dana CSR Bank BPRS Bhakti Sumekar dan BRI Sumenep. “Sebentar lagi aka nada tambahan melalui CSR BRI sebanyak 20 unit stand, dan kami memang hanya membatasi hingga 100 stand, yang dipinjam pakaikan kepada para pedagang.”jelasnya. Hal itu dilakukan, agar keberadaan stand tetap terpelihara. Sebab, jika kemudian diberikan, khawatir hanya beberapa kali mereka buka kemudian menghilang, dan akhirnya standnya akan habis. Melihat animo masyarakat terhadap pasar minggu tersebut, H. Syaiful Bahri mengaku cukup tinggi. Hal itu, bisa dilihat banyaknya pengunjung pasar yang memang khusus untuk hari minggu tersebut. Karena itu, pihaknya akan melakukan evauasi terhadap perkembangan pasar minggu, yang sebenarnya merupakan kemasan pasar wisata. Jika memang berkembang akan terus dilakukan penataan, karena pasar minggu tersebut merupakan sarana rekreasi masyarakat. Bahkan, Pasar Wisata ini juga sudah berkembang disejumlah kota, seperti di Kabupaten Malang disepanjang jalan sekitar 600 meter dekat Museum dan sarana olahraga Gajayana, di depan tugu Pahlawan Surabaya, Pamekasan di Taman arek Lancor bahkan di Bandung tepat di depan Gedung Sate. “Ini juga diharapkan para pengunjung wisata dari luar Sumenep nantinya juga bisa menikmati pasar minggu ketika berjalan kaki dari Taman Adipura menuju Museum Keraton Sumenep,”pungkasnya. ( Ren, Esha )