News Room, Rabu ( 30/03 ) Keindahan batik khas Madura, dengan motif dan corak yang menampilkan perbedaan tersendiri, patut untuk dikembangkan. Terbukti, saat ini pengelolaan batik di Sumenep, terus bertambah. Pengembangan batik khas Sumenep, kali ini dilakukan oleh Dewi Khalifah (Difa) Center, yang dipusatkan di Kampung Terate, Desa Pandian, Kecamatan Kota, Sumenep. “Kami tertarik mengembangkan batik Sumenep, dengan menampilkan hal yang berbeda. Kami lebih menekankan pada pembuatan batik secara alamiah,”kata Hj. Dewi Khalifah, usai menggelar acara Launching and Exhibition Difa Center, di Sumenep, Rabu (30/03). Pembuatan batik secara alamiah itu, kata Dewi Khalifah, memanfaatkan tumbuh-tumbuhan, mulai pewarnaan kain hingga motif. “Tumbuhan yang digunakan adalah yang bergetah, seperti daun pohon soekarno atau mimbau, dan kayu seccang, kayu mahoni dan kayu nyamplong,”terangnya. Hj. Dewi Khalifah juga mengungkapkan, selain tumbuhan, pihaknya juga menggunakan rempah-rempah, untuk pewarnaan. “Aroma yang dihasilkan oleh penggunaan rempah-rempah itu layaknya aroma theraphy. Sehingga, sangat disenangi oleh para konsumen,” ungkapnya. Namun, yang utama pendirian batik ini, ditujukan untuk menarik para pengangguran di Sumenep. Sementara, Kabag Perekonomian Sekretariat Daerah Sumenep, Syaiful Bahri, ketika membacakan sambutan Bupati KH A Busyro Karim, mengatakan sangat mendukung pengembangan batik khas Madura. “Semoga keberadaan batik ini, kedepan bisa mempromosikan dan mengembangkan budaya lainnya di Sumenep. Kami sangat mendukungnya,”ujarnya menambahkan. ( Nita, Esha )