News Room, Jum’at ( 18/06 ) Keluarga Susantin Fajariyah, Titin (31), seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kabupaten Sumenep, menyesalkan sikap Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI), yang tidak memberikan informasi mengenai meninggalnya TKW tersebut. Padahal, Susantin, warga Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan ini, sudah meninggal 3 bulan yang lalu, di Arab Saudi. Edy Pramono, bapak Susantin Fajariyah menjelaskan, pihaknya baru mengetahui Titin meninggal kemarin, ketika keluarga mencoba mendatangi PJTKI di Jakarta. Kematian Titin di Madinah, Arab Saudi seakan-akan ditutupi oleh PJTKI yang memberangkatkan. “Sejak berangkat memang tidak ada kabar dari PJTKI. Tahu-tahu kami dikabari sudah meninggal dunia pada tanggal 3 Maret 2010 lalu. Itu pun karena keluarga bertanya pada PJTKI, kemarin. Sungguh, kami sangat kecewa dan menyesalkan sikap manajemen PJKTI tersebut,â€Âkata Edy, pada wartawan dikediamannya Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan, Jum’at (18/06). Untuk itu, kata Edy, pihak keluarga berharap, supaya jenazah Titin dimakamkan di kampung halaman. “Saat ini, suami Titin, Matzari, berada di Jakarta untuk menemui manajemen Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) guna mengurus kepulangan jenazah almarhumah, agar bisa dimakamkan di Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan,â€Âujarnya. Titin yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Madinah melalui salah satu PJTKI di Jakarta Timur itu adalah warga Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep. Sesuai dokumen yang ditunjukkan manajemen PJKTI tersebut kepada keluarganya, Titin meninggal dunia akibat jatuh dari tangga di apartemen majikannya pada tanggal 3 Maret 2010. Namun, keluarga Titin di Pasongsongan baru mengetahui persoalan tersebut pada tanggal 7 Juni 2010. Edy menjelaskan, untuk sementara pihaknya hanya bisa pasrah menerima kenyataan Titin telah meninggal dunia. ( Nita, Esha )