Sumenep-Infokom News Room : Pengembangan jaringan bisnis merupakan program prioritas utama bagi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, karena selama ini permasalahan yang terjadi pada dunia investasi adalah lemahnya dalam melakukan jaringan bisnis (network) antara pemerintah dengan investor. Kondisi ini telah mengakibatkan enggannya investor masuk ke Jatim. Demikian dikatakan Ketua Kadin Jawa Timur, Ir. H. Erlangga Satriagung saat pembukaan Rapat Pimpinan Propinsi II Kadin Jatim di Hotel JW Marriot Surabaya, Kamis (23/02). “Kami targetkan pada tahun 2009 harus berhasil mengembangkan jaringan bisnis ini. Karena, hanya dengan peningkatan jaringan, segala kebutuhan dan uneg-uneg yang dirasakan oleh investor dapat tersalur dan terselesaikan,� ujarnya. Dikatakannya, dasar lain perlunya jaringan bisnis adalah tersendatnya perkembangan dunia wisata sebagai dampak kenaikan BBM dan rencana kenaikan TDL. Dimana sektor wisata merupakan andalan, guna mendongkrak masuknya investor ke Jatim. “Oleh karena itu, kami bersama Kadin Kabupaten/Kota telah bersepakat untuk menolak kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sampai batas akhir tahun 2006,� tambahnya. Tentang keberhasilan Kadin Jatim 2005, Erlangga mengatakan, pihaknya telah berhasil membentuk Jatim Turism Board (JTB) sebagai wahana penghubung potensi wisata Jatim kepada pasara (market). Di samping itu, juga telah berhasil membentuk Dewan Konseling Investasi sebagai wahana peningkatan dunia investasi. “Selama tahun 2005, kita juga telah berhasil menggelar pameran UKM di tingkat Internasional, tentunya UKM yang kami pamerkan pun berkualitas ekspor dan produk-produk pilihan,� katanya. Asisten Kesejahteraan Masyarakat Sekda Propinsi Jawa Timur, Drs. Endro Siswantoro, M.Si mengatakan, Rapimprop ini merupakan ajang konsolidasi dalam upaya penciptaan iklim kondusif bagi perekonomian di Jatim, dimana perkembangan ekonomi dari tahun ke tahun terus berkembang secara positif di segala sektor, hingga mencapai 4 prosen lebih. Dikatakannya, secara umum pertumbuhan ekonomi di Jatim masih didominasi pada sektor perdagangan, perhotelan dan restoran, yaitu sebesar 9,01 prosen disusul pada sektor industri sebesar 4,5 prosen, pertambangan 9 prosen, keuangan 6,69 prosen, kelistrikan 6,65 prosen, angkutan 5,17 prosen, jasa 4,35 prosen serta sektor pertanian 1,65 prosen. Berkaitan dengan dampak kenaikan BBM, Endro mengatakan, Pemprop Jatim telah pembaharuan dibidang pembangunan, dimana program pertumbuhan ekonomi telah berubah menjadi program penyelamatan rakyat miskin melalui peningkatan program padat karya, dana bergulir serta pasar murah. “Sampai dengan tahun 2005 yang lalu, kita telah memberikan kredit dana bergulir ini mencapai Rp. 165 miliar kepada 941 UKM di Jawa Timur melalui Bank Jatim. Dan pada 2006 ini, kami juga telah memproses 829 UKM untuk mendapatkan dana bergulir ini,� tambahnya. Dengan adanya Rapimprop, Endro berharap, Kadin Jatim dapat berperan sebagai penggali potensi yang mampu menciptakan kekuatan dalam mendukung perekonomian Jawa Timur, utamanya peningkatan sektor perekonomian untuk wilayah jalur selatan Jawa. Endro berharap, kedepan Kadin Jatim harus mampu menciptakan pengusaha yang profesional dan tangguh yang mampu berperan aktif dalam pembangunan serta mampu membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat Jatim. ( Info Jatim, Esha )