News Room, Rabu ( 04/11 ) Pada bulan Oktober 2015 Sumenep mengalami inflasi sebesar 0,15 persen. Inflasi ini melampaui Jawa Timur yang terjadi deflasi sebesar 0,19 persen dan nasional juga deflasi sebesar 0,08 persen.
"Kelompok yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi adalah daging sapi, uang perguruan tinggi, beras, pisang, udang basah, tongkol pindang, telur ayam ras, kelapa, tongkol/ambu-ambu dan bawang merah,"kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep, Suparno, Rabu (04/11).
Ia menuturkan, laju inflasi Oktober di Sumenep ini juga tertinggi dari 8 Kota IHK se Jawa Timur, sedangkan terendah di Jember yang mengalami deflasi sebesar 0,05 persen. Dari 7 kelompok pengeluaran, 6 kelompok mengalami inflasi, satu kelompok terjadi deflasi.
"Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,11 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,11 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,11 persen, kelompok sandang sebesar 0,01 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,01 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,99 persen,"terangnya.
Sedangkan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar 0,03 persen.
Suparno mengungkapkan, tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Oktober 2015) Sumenep sebesar 1,53 persen, Jawa Timur sebesar 2,16 persen, dan nasional sebesar 2,16 persen.
"Untuk tingkat inflasi tahun ke tahun (Januari 2015 terhadap Oktober 2014) Sumenep sebesar 5,49 persen, Jawa Timur sebesaar 6,03 persen, dan nasional sebesar 6,25 persen,"ungkapnya. ( Nita, Esha )