Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 19-08-2015
  • 7467 Kali

Indonesia Belum Merdeka Dari Perang Kepentingan

News Room, Kamis ( 20/08 ) Secara historis, Indonesia memang sudah merdeka. Namun, sejarah mencatat, kemerdekaan masih belum sepenuhnya dirasakan warga Indonesia. Banyak faktor yang mengakibatkannya.

Seperti yang diungkapkan salah seorang pakar kebijakan publik, Zainal Abidin Amir, putra Sumenep yang saat ini mukim di Ibukota Negara. "Salah satunya ialah perang kepentingan, yang keberpihakan pada kepentingan umum sangat kecil,"katanya, pada News Room.

Menurut Zainal, semestinya kalangan elite yang banyak berperan dalam laju pembangunan negeri ini hanya perlu fokus pada kesejahteraan rakyat. Seperti misalnya pembenahan infrastruktur.

"Infrastruktur merupakan elemen sangat penting bagi upaya peningkatan kesejahteraan rakyat. Infrastruktur yang baik memudahkan relasi masyarakat dengan segmentasi masing-masing. Yang petani dan atau nelayan bisa dengan mudah memasarkan hasil pekerjaannya dengan waktu yang efisien, sehingga keuntungan ekonomi bisa lebih baik hasilnya. Begitu pula dengan kalangan pelajar, bisa dengan mudah mengakses tempat-tempat pendidikan. Hal yang sama bisa dirasakan pula oleh arus perdagangan di bidang kehidupan yang lain. Karena itu, sudah sewajarnya bila setiap Pemkab misalnya, memberikan perhatian serius terhadap persoalan infrastruktur di wilayahnya,"kata ayah 3 anak ini.

Terkait dengan hal itu, secara terpisah, Mohammad Johan, seorang guru mengatakan, jika minimnya infrastruktur yang memadai tersebut bukan semata disebabkan karena kurangnya anggaran, tapi lebih pada ada atau tidak adanya good will dari berbagai pihak.

"Jadi setiap warga negara ini memiliki tugas yang sama penting, tak peduli siapa dia,"tambahnya.

Ahmad Nizar, seorang pemuda di Sumenep menilai jika banyak orang yang masih memaknai kemerdekaan secara seremonial. Merdeka hanya dianggap akhir dari masa transisi. "Banyak yang belum sadar, jika merdeka itu harus dipertahankan dengan mengisinya sesuai dengan cita-cita mereka yang sudah memperjuangkannya dengan segenap jiwa raga,"imbuhnya.

Berangkat dari itu, menurut Nizar, makna kemerdekaan masih belum menyentuh substansinya. Merdeka seharusnya bukan hanya bebas beraspirasi, sehingga bahkan sampai kebablasan.

"Merdeka adalah kebebasan yang terbatas pada saling menjaga hak-hak orang lain. Jika merdeka diartikan sebagai peralihan era penjajahan atau dinasti, atau orde lawas ke orde yang dipimpin rezim yang anti rezim sebelumnya, merdeka lantas menjadi sebuah harapan yang terus dinanti perwujudannya," tegasnya.

Di sisi lain, ada bahaya lain yang mengintai dan bisa meracuni udara kemerdekaan. Seperti yang dikatakan K.R Nurul Hidayat, seorang guru lainnya di Sumenep, yakni penjajahan budaya. "Merdeka itu memang sulit ya. Penjajahan juga aneh. Ia bisa dalam bentuk fisik dan non fisik.

Penjajahan budaya salah satunya. Indikasinya ialah banyak generasi kita yang lebih menyukai hal yang sejatinya bukan budaya ibunya. Seperti kebarat-baratan, yang semestinya yang harus dilestarikan dan dipakai itu kan yang ketimur-timuran. Jadi kita dijajah lagi. Yang krisis bukan lagi materi, tapi jatidiri,"tutup salah satu pengasuh di TPA Al-Hikmah di Bangselok Sumenep ini, sambil tersenyum. ( Farhan, Esha )