Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 19-01-2006
  • 582 Kali

IMPOR BERAS REDAM GEJOLAK HARGA

Sumenep-Infokom News Room : Pro kontra mengenai rencana Pemerintah mengimpor beras terus mengemuka. Selain di tingkat pengambil kebijakan, para akademisi juga datang dengan berbagai kesimpulan. Salah satu diantaranya adalah hasil riset Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPLEM) FE UI yang menyimpulkan, bahwa pembukaan keran impor beras berdampak positif dengan menstabilkan harga beras di pasaran. Demikian diungkapkan Direktur Riset bidang Moneter dan Makro Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FE UI, Arianto A. Patunru di Jakarta kemarin. Menurut dia, pembukaan keran impor beras yang dilakukan Pemerintah diyakini bisa menstabilkan harga kebutuhan pokok itu yang kini melonjak. “Ternyata harga itu lebih stabil ketika dibuka liberalisasi impor. Namun, sebaliknya harga beras akan bergejolak jika impor beras dibatasi�, ujarnya. Lebih lanjut, dia mengemukakan bahwa berdasar data LPEM UI, hanya 20 prosen dari seluruh petani menggunakan hasil tanamnya untuk dikonsumsi sendiri selain untuk dijual. Dia menambahkan, penelitiannya itu menemukan bahwa petani petani tersebut mengerjakan sawah, tetapi juga pembeli beras. Sebab mereka tidak menggunakan hasil tanamnya untuk konsumsi. “Ini menjadi alasan saya setuju impor karena data data itu memperlihatkan hanya 20 persen dari seluruh petani yang menggunakan hasil tanam mereka untuk konsumsi�, jelasnya. Menurut dia, seharusnya yang menjadi persoalan bukan terkait impor beras, “Namun, yang perlu dicermati adalah bagaimana mekanisme impor beras dilakukan. Karena itu, harus ada transparansi dan pengawasan untuk impor beras tersebut,� paparnya. Dari hasil penelitian LPEM UI juga menjelaskan adanya volatilitas harga beras untuk kurun waktu 1993-1997, saat dilakukan regulasi atau tidak ada kebebasan impor. Pada kurun waktu itu tingkat kenaikan harga beras di atas rata-rata. Seperti wilayah Jakarta, harga beras 22,67 prosen diatas harga rata-rata, sedangkan di Bandung 17,72 persen dan Banjarmasin 24,46 prosen. Ketika dilakukan liberalisasi impor pada kurun waktu 1999-2004, harga beras di Jakarta hanya 8,87 prosen diatas rata-rata, di Bandung 11,74 prosen, dan Banjarmasin 11,78 prosen ( JP,Ong,Esha )