News Room, Selasa ( 14/07 ) Fenomena Pasar Burung di Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep ini memang memiliki banyak keunikan. Selain berdiri di tengah-tengah area pekuburan umum, memberikan prospek bisnis yang bagus, lokasi sekitar Pasar Burung yang dulu “mati” sekarang bisa “hidup” lagi.
Lahan-lahan sekitar pasar mulai dibuka warga. Areal-areal kosong sekarang sudah mulai padat penduduk. Di bagian barat pasar mulai bermunculan bangunan-bangunan rumah warga. “Terus terang saya agak terkejut melihat pembangunan di sebelah barat Pasar Burung. Dulu waktu saya masih pelajar, areal di sana sangat sepi, bahkan terkesan angker,”kata Dedy Wahyudi, salah seorang pembeli di Pasar Burung, beberapa waktu lalu.
Menurut salah seorang guru di salah satu SMA di Sumenep ini, efek positif keberadaan Pasar Burung di jalan Garuda Pamolokan ini sangat besar. Paling tidak menurut Dedy, secara garis besar efek itu menyentuh aspek perekonomian warga, dan nilai lahan di sekitar Pasar Burung.
“Tanah-tanah disini saya lihat terus menunjukkan grafik naik. Memang, pada dasarnya nilai tanah itu tidak pernah turun apalagi jatuh. Namun, kalau dibanding dengan lokasi lain, tanah sekitar sini yang sedikit jauh dari pusat kota dan perbelanjaan nilai jualnya melesat cepat,”sambungnya.
Memang, saat ini, sekitar 200 meter ke barat pasar sudah mulai banyak rumah penduduk. Padahal sekitar 10 tahun sebelumnya, lokasi ini masih tidak dilirik walau sebelah mata. Maklum, disamping sepi, lokasi disana masih alami, sehingga terkadang masih dijumpai binatang liar semisal anjing.
“Dulu saya beli tanah disini sekitar Rp. 15 juta, sekarang ada yang nawar di posisi yang hampir sama, sudah tidak dilepas meski Rp. 75 juta,”kata Kholiq, warga setempat.
Menariknya, tanah di sekitar tersebut masuk di dataran tinggi, sehingga penduduk sekitar tidak merasa was-was kena banjir saat musim penghujan. Untuk bangunan rumah lokasi ini juga terhitung bagus, karena tekstur tanah yang berbatu, sehingga menggali fondasi hanya beberapa centi meter dari permukaan tanah. Bahkan tak sedikit warga yang membuat fondasi tanpa menggali, karena permukaannya sudah berbatu. ( Farhan, Esha )