News Room, Rabu ( 04/07 ) Ikatan Mahasiswa Kepulauan Kangean Malang (IMAKA) Sumenep, Rabu (04/07) pagi, berdemonstrasi didepan kantor DPRD setempat. Mereka menuntut anggota dewan untuk secepatnya mengganti kapal Dharma Bahari Sumekar (DBS) I dan II milik PT. Sumekar Line. Karena, keberadaan 2 armada itu, yang biasanya melayani lintasan Kalianget-Kangean dan Sapeken, sudah tidak layak pakai. “Kapal DBS I dan II tersebut, sudah 2 bulan tidak beroperasi. Akibatnya, warga Kangean dan Sapeken terlantar. Jadi, saatnya kapal DBS itu diganti dengan kapal yang layak dipakai, agar transportasi laut ke Kangean lancar,”kata Korlap Aksi, Alamsyah, Rabu (04/07). Alamsyah mengungkapkan, pihaknya meminta pada Pemerintah Kabupaten Sumenep, segera merealisasikan tuntutannya. “Tolong perhatikan keluhan warga kepulauan Kangean. Operasikan kapal sesuai dengan kebutuhan masyarakat kepulauan, dan berikan kami kapal yang layak. Dalam artian, ada pemisahan antara kapal penumpang dengan barang. Selama ini kan penumpang disamakan dengan barang,”terangnya. Orasi pada aktivis IMAKA akhirnya terhenti, karena perwakilan anggota DPRD Sumenep, yakni Ketua Komisi C DPRD Sumenep, KH. Abdul Hamid Ali Munir, SH menemui para pendemo didepan pagar pintu masuk kantor setempat. “Sebenarnya kami sudah berjuang semaksimal mungkin untuk mengatasi tidak beroperasinya kapal DBS I dan II. Sudah 2 kali kami memanggil Direktur PT. Sumekar Line, tapi tidak pernah diindahkan,”ujar KH. Abdul Hamid, didepan aktivis IMAKA Sumenep, Rabu (04/07). Kedepan, menurut KH. Abdul Hamid, jika PT. Sumekar Line tetap tidak bisa memberikan alasan terkait tidak beroperasinya kapal DBS I dan II, maka DPRD Sumenep, akan meminta operator lain guna melayani lintasan Kalianget-Kangean dan Sapeken, serta Masalembu. “Ini langkah terakhir, kalau PT. Sumekar Line tetap diam. Kami juga memikirkan masyarakat kepulauan, makanya kami menyiapkan jalan keluar dengan membuka peluang sebesar-besarnya pada operator lain untuk masuk melayani pelayaran lintasan Kalianget-Kangean, dan Sapeken, serta Masalembu sebagai jalur keperintisan,”pungkasnya. Usai berdialog, para aktivis IMAKA Sumenep, membubarkan diri secara tertib sambil mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian setempat. ( Nita, Esha )