Media Center, Senin, ( 08/10 ) Bisa dikata, untuk pertama kalinya, haul Ibunda Pangeran Letnan Kolonel Hamzah alias Pangeran Le’nan digelar, Ahad (07/10). Makam sosok salah satu isteri Sultan Sumenep yang melahirkan seorang pangeran yang di Serambi Mekkah dikenal sebagai Guru Ngaji itu, memang baru “ditemukan” beberapa waktu lalu. Media Center berapa kali mengulas asal-muasal penemuan hingga perawatan makam bercungkup unik, karena berpintukan akar pohon Kesambi itu. Tim Ngopi Sejarah (Ngoser) dan tentu saja Keluarga Besar Keturunan Pangeran Le’nan di Kepanjin yang berperan di dalamnya.
Istilah “ditemukan” bukan berarti selama ini makam itu hilang lalu muncul lagi dengan sendiri. Makam itu tetap di tempatnya sejak semula, alias tidak pernah ke mana-mana. “Penemuan” di sini berupa identifikasi ulang, karena dalam rentang beberapa generasi; ada keterputusan informasi mengenai keberadaan makam, dan “hilangnya ingatan” akan eksistensi sang tokoh di masa hidupnya dari benak generasi setelahnya. Mengenai sebab dan alasan terjadinya hal itu, tentu membutuhkan pembahasan khusus.
Kembali pada haul, acara yang dilaksanakan pukul 08.00 WIB itu dihadiri oleh sebagian besar anggota Perkumpulan Keluarga Keturunan Pangeran Le’nan, dan beberapa undangan. Seperti Pengurus Yayasan Panembahan Sumolo (YPS), Persatuan Famili Panembahan Sumolo (Perfas), Wakaf Panembahan Sumolo (WPS), Forum Komunikasi Generasi Muda Panembahan Sumolo (Forsigemas), dan sejumlah undangan dari masyarakat umum.
Acara dimulai dengan sepatah kata dari perwakilan Panitia dan sedikit kisah tentang “penemuan” makam oleh Tim Ngoser yang diwakili RB. Jafar Shadiq. Meliputi penemuan awal di tahun 2016, hingga inisiatif Tim Ngoser melakukan bakti situs bulan Juli 2018. Bakti situs kedua dan selanjutnya “diperankan” oleh Keluarga Besar Keturunan Pangeran Le’nan di Kepanjin.
Salah satu sesepuh Keluarga Besar Keturunan Pangeran Le’nan di Kepanjin, RB. Idris mengucapkan syukur yang tak terhingga karena dengan kerja sama banyak pihak, makam bersejarah tersebut bisa dirawat langsung oleh keturunannya saat ini. “Inilah kemudian gunanya peduli sekaligus belajar ilmu sejarah dan asal-usul. Karena dari sana kita bisa mengambil banyak teladan yang baik, khususnya dari para pendahulu,” kata mantan Pj Sekda Sumenep ini.
Acara juga diisi dengan pembacaan doa tahlil dan ramah tamah. Setelah itu dilanjut dengan napak tilas ke cungkup Ibunda Pangeran Le’nan, Kiai Reksajaya, Kiai Reksayuda, dan beberapa cungkup makam lainnya di sekitar situ.
Area sekitar Cungkup Unik, kampung Banasokon, Desa Kebunagung tersebut memang menyimpan banyak tanda tanya bagi generasi saat ini. Banyak makam yang terindentifikasi namanya, namun masih sebagian kecil yang bisa diketahui asal-usul atau kisah di masa hidupnya. “Insya Allah kita akan terus melakukan bakti situs, di sekitar area sini, setidaknya memberi kemudahan bagi peziarah dan pemerhati sejarah, karena masih banyak yang diselimuti semak belukar yang berduri,” kata salah satu sesepuh Keluarga Besar Keturunan Pangeran Le’nan lainnya, RB. Sadli. ( RM. Farhan M, Fer )