News Room, Kamis ( 11/09 ) Jika sebelumnya masyarakat nelayan kepulauan, khususnya di kepulauan Sapeken banyak menggantungkan nasibnya pada penangkapan ikan, namun dalam dua tahun terakhir ini, pola kerja mereka bisa dikatakan banyak yang membanting setir pada budidaya rumput laut. Ternyata pilihan mereka benar-benar menuai hasil yang memuaskan. Bayangkan, jika mereka sebelumnya harus membanting tulang berbantal ombak, berselimut angin di lautan lepas, hanya untuk memancing. Bahkan terkadang terbujuk menggunakan potasium untuk mendapatkan ikan tangkapan lebih banyak. Namun belum juga memberikan penghasilan yang cukup bagi nelayan di kepulauan. Lebih ironis lagi, mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di balik terali besi, ketika tertangkap aparat. Namun itu mereka anggap masa lalu yang suram. Dan saat ini terkadang hanya dijadikan hobby saja ketika senggang. Seperti yang diungkapkan Kepala Desa Tanjung Keaok Kecamatan Sapeken, H. Syairuddin, jika saat ini hampir 90 persen masyarakat nelayan disana beralih pada budidaya rumput laut, karena hasilnya lebih dapat diharapkan ketimbang melaut. Bahkan untuk kebutuhan lauk-pauk, terkadang masyarakat di Desanya membeli ke pulau lain, seperti ke Desa Pagerungan Besar dan Saseel, meski dengan harga yang cukup mahal, yakni sekitar 50 persen ketimbang ketika masyarakat disana masih berprofesi nelayan. Dijelaskan Syairuddin, dalam setiap bulan, pihaknya bisa mengirim sebanyak 200 ton rumput laut kering, dengan harga beli Rp. 2.700 perkilogram di petani. Dan masa panen rumput laut sudah berlangsung sejak bulan Maret hingga Agustus kemarin. ( Ren, Esha )