Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 15-04-2021
  • 851 Kali

Harga Daging Ayam Di Awal Ramadan 1442 Hijriah Tertinggi

Media Center, Kamis ( 15/04 ) Di awal bulan Ramadan 1442 Hijriah, harga daging ayam di pasar tradisional Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, merangkak naik mencapai Rp46 ribu per kilogram.

Harga ini pun dikeluhkan oleh konsumen utamanya kalangan ibu-ibu rumah tangga, karena kenaikannya cukup signifikan dalam sepekan terakhir.

Jika biasanya harga daging ayam berkisar Rp36 ribu hingga Rp40 ribu, saat ini di Kabupaten Sumenep terpantau mencapai sekitar Rp46 ribu per kilogram.

Menanggapi hal itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Kabupaten Sumenep, Hairul Anwar mengatakan, penyebab naiknya harga daging ayam lantaran permintaan yang tinggi sementara pasokan terbatas.

"Berdasar survei kita, naiknya harga daging ayam ini memang yang tertinggi, lebih dari 10 persen bahkan hampir 20 persen. Dan ini karena tak seimbangnya permintaan dan pasokan," tuturnya, Kamis (15/04/2021).

Hairul menyebut, ada rentetan faktor hingga akhirnya harga daging ayam naik drastis, mulai dari harga pakan yang sempat naik hingga menyebabkan banyak peternak berhenti melanjutkan beternak karena merugi.

"Nah, saat peternak berhenti beternak, pemintaan mendadak meningkat, akhirnya ya stok tidak mendukung dan sebagaimana hukum pasar, ketika stok terbatas harga pasti melonjak," paparnya.

Sebagai solusi, menurut Hairul, pemerintah bisa berupaya menekan harga daging ayam ini dengan menggelar operasi pasar. Tetapi hal itu tentu bergantung kepada kemampuan finansial.

"Solusi jangka pendeknya ya operasi pasar, tapi untuk jangka panjang pemerintah harus mempersiapkan jauh-jauh hari, seperti harga pakannya, bibit ayamnya hingga harga ecerannya. Ini supaya peternak tidak rugi dan tetap semangat produksi," ungkapnya.

Pengusaha muda sukses ini menambahkan, masalah naik turun harga komoditas sebetulnya wajar-wajar saja jika tidak melebihi dari 10 pesen harga normal. Pasalnya, hukum pasar memang fluktuatif.

"Yang paling penting justru pemerintah harus mengupayakan swasembada, solusi jangka panjang. Sedangkan masyarakat juga harus tetap kuat, tetap berusaha memenuhi kebutuhan di tengah ekonomi sulit karena pandemi ini," pungkasnya. ( Nita, Fer )