News Room, Selasa (23/09) Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1429 Hijriyah, yang tinggal hitungan hari, sebagian masyarakat memiliki kebiasaan menukarkan uang pecahan besar ke pecahan kecil menjadi uang ribuan, lima ribuan, sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan di Bank-Bank yang ada di Sumenep. Penukaran uang dari ratusan hingga lima puluhan ribu ke mata uang kecil, biasanya memang dilakukan sebagian masyarakat untuk keperluan lebaran. Sebab biasanya pada saat lebaran mereka menyisihkan uang kecil untuk diberikan kepada anak-anak dari familinya maupun tetangga dekat ketika bersilaturahmi ke rumah mereka. “Kami memang menukar uang setiap menjelang lebaran, sebab kami memiliki keluarga besar, dan banyak anak-anak kecil yang senang ketika diberi uang sekedar untuk merayakan kebahagiaan di hari Fitri,†ujar Abdullatif, warga Desa Kacongan yang mengaku menukar pada temannya yang kebetulan bekerja di salah satu bank swasta di Sumenep. Banyaknya penukaran uang di Bank, dibenarkan Pimpinan Bidang Operator Bank Jatim Cabang Sumenep, Drs.Hadi Suhartono, menurut pria berkacamata ini, meskipun tidak secara formal penukaran uang diakui terjadi di Banknya. Namun itu dilakukan secara personal saja, yang biasanya hanya menitip kepada tetangganya yang kebetulan bekerja di Bank, dan kebetulan memang masih ada stok uang baru. “Kami tidak melayani secara khusus, khawatir nanti malah mengganggu kegiatan opersional. Sebab pelayanan nasabah pada hari-hari menjelang lebaran biasanya ada peningkatan dari hari-hari biasa.†Ujar Hadi. Namun, diakuinya jika penukaran uang merupakan kebiasaan masyarakat menjelang lebaran. Asalkan tidak mengganggu pekerjaan utama karyawannya tetap melayani biasanya diluar jam kerja. Sebab pelayanan nasabah sejak seminggu ini sudah meningkat sekitar 30% dari hari biasa. Yang banyak biasanya pengambilan uang hingga mencapai Rp. 5 milyar setiap hari, yang biasanya hanya sekitar Rp. 2-3 milyar per hari. Sementara Direktur BPRS Sumenep, Drs. H. Abd. Sukur juga mengaku tidak melayani penukaran uang secara khusus, namun jika memang ada itu dilakukan perseorangan saja. Sebab, saat ini Bank yang dipimpinnya tidak memiliki stok banyak uang baru, yang ada hanya uang lama. Kalau memang ada nasabah yang kebetulan membutuhkan untuk ditukar, menurut Sukur biasanya tetap dilayani, yang penting barangnya ada. (Ren, Adjie)