News Room, Senin ( 04/08 ) Gelombang pasang yang mencapai 2 meter diperairan Desa Tanjung dan Pagar Batu, Kecamatan Saronggi, menghentikan aktifitas nelayan dilaut. Sekitar 800-an nelayan tidak dapat beraktifitas dan hanya menambatkan perahunya di bibir pantai. Warga 2 Desa yang penduduknya mayoritas nelayan itu hanya memperbaiki jaring. Jika para nelayan memaksa melaut, selain jiwanya terancam, hasil tangkapan ikannya juga tidak seimbang dengan modal yang dikeluarkan. Salah seorang nelayan, Abdus Syukur (42) warga Desa Tanjung Kecamatan Saronggi, mengatakan, sejak sebulan terakhir ini cuaca dilaut tidak bersahabat. Meski sebagian nelayan memaksa mencari ikan, namun hasilnya tidak seimbang dengan modal yang dikeluarkan. "Para nelayan di pelabuhan Tanjung ini sekarang lagi susah. Air laut lagi pasang dan ikan juga tidak ada,"ujarnya. Apalagi setiap kali melaut, kata dia, membutuhkan minyak tanah sebanyak 25 liter untuk perahu atau seharga Rp. 87.500,00. Sedangkan ikan yang dihasilkan hanya berkisar antara Rp. 50.000,00 hingga Rp.65.000,00. Itupun masih belum dihitung biaya makan dan waktu yang terbuang. "Jadi, kalau dihitung antara modal dengan ikan yang dihasilkan sangat tidak seimbang. Apalagi, untuk mendapatkan minyak tanah juga sulit,"ujarnya. Hal serupa juga dikatakan, Sutahri (39) warga setempat. "Bila memaksa melaut ikan rajungan yang didapat hanya seberat 3 kilogram. Bila dijual hanya laku seharga Rp. 69.000,00. Jadi, nelayan sudah jelas rugi,"paparnya. Karena itu, ia bersama ratusan nelayan lainnya memutuskan untuk tidak beraktifitas hingga menunggu cuaca dilaut membaik.( Nita, Esha )