News Room, Sabtu ( 14/11 ) Munculnya selebaran hasil istighotsah yang dilakukan salah satu ulama, nampaknya dinilai menyesatkan warga Nahdlatul Ulama (NU). Sebab, isi yang terkandung dalam hasil istighotsah tersebut, cenderung mengarah dan menunjuk sosok kandidat yang akan berlaga pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumenep, dengan latar belakang NU. Menurut Ketua Forum Komunikasi Generasi Muda Nahdlatul Ulama (FKGMNU), Muhri Zain, hasil istighotsah itu tidak seharusnya disebar luaskan. Karena, akan berdampak buruk bagi warga NU, yang nantinya memicu asumsi adanya dukung mendukung dalam Pilkada 2010. “Isi dari hasil istighotsah itu, akan menyesatkan dan menggelisahkan warga NU. Apalagi tidak ada yang bertanggung jawab. Ini sudah tidak sesuai dengan nilai-nilai Ahlus Sunnah Waljamaah yang dianut oleh NU,â€Âterang Muhri, pada wartawan di gedung PCNU Sumenep, Sabtu (14/11). Ia menjelaskan, dengan adanya selebaran tersebut, FKGMNU mengutuk hasil istighotsah itu. “Ini adalah sebuah contoh yang akan menyesatkan dan menggelisahkan warga NU,â€Âtegasnya. Muhri menilai, tindakan itu tidak cocok diberlakukan dikalangan NU. Karena, NU diharapkan tidak ikut campur dalam persoalan saling dukung mendukung pada Pilkada Sumenep 2010 mendatang. “Kami harapkan, NU tetap netral. Dan, tidak berpihak kepada salah satu Calon Bupati (Cabup) Sumenep, yang berlatang belakang NU,â€Âungkapnya menambahkan. Sementara, isi dari hasil istighotsah tersebut, yaitu “Mengenai Calon Bupati yang akan datang, dipersilahkan jangan ragu-ragu, tetap mengikuti hasil istigharoh KH. Fauzi Sirron, yaitu KH. Ilyasi Siraj, SH, MH, Karang Cempaka. Sebab lebih shoheh, jelas dan lebih mendekatiâ€Â. Kemudian, nama-nama yang dianggap berhasil dalam istighotsah itu, adalah KH. A. Warits Ilyas, dan KH. Ilyasi Siraj, SH, MH. Sedangkan yang tidak berhasil, yakni KH. Taufiqurrahman, dan KH. Busyro Karim. Menanggapi hal itu, KH. Abuya Busyro Karim, menilai, ayat-ayat hasil istighotsah yang “turun†pada kyai semuanya bagus. “Semua ayat-ayat yang “turun†itu bagus semua. Tapi, nampaknya ini sudah masuk ke ranah politik, sehingga ada distorsi terhadap interpretasi pada ayat itu,â€Âkatanya. K. Busyro menambahkan, pihaknya tidak mempersoalkan siapa yang melakukan istighotsah. Akan tetapi, permasalahan saat ini menyangkut interpretasi dari ayat itu, yang terkesan ada misi politik. ( Nita, Esha )