Media Center, Selasa ( 08/02 ) Tindak kekerasan seksual di Indonesia masih menunjukan angka yang tinggi. Angka tersebut hanya segelintir dari banyaknya kasus kekerasan seksual disebabkan masih banyak korban kekerasan seksual yang tidak melapor kepada pihak kepolisian atau lembaga layanan perlindungan.
Hal itu disampaikan Nyai Raudlatun, Direktur Sekolah Perempuan (SP) Kobher saat membuka pelatihan konten kreatif bagi pemuda-pemudi dalam upaya pencegahan kekerasan seksual, di Aula MTs. An-Najah, Selasa (08/02/2022).
“Mengutip data dari Kementerian Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, bahwa sepanjang tahun 2021 terdapat 14.517 kasus kekerasan terhadap anak dan 45,1 persen diantaranya adalah kekerasan seksual," ungkapnya.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, ia menggandeng Lembaga She Builds Peace (SBP) dan Lembaga The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, untuk mengedukasi pemuda-pemudi mengenal tentang kekerasan seksual dan mengampanyekan pencegahannya.
“Kepesertaan melibatkan pemuda dan pemudi usia 20 – 30 tahun se-Kecamatan Rubaru dengan 2 orang utusan untuk setiap Desa dengan berbagai latar belakang, ada dari Ikatan Pelajar NU (IPNU), Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU), Karang Taruna, Forum Pemuda Pemberdayaan Masyarakat (FPPM) dan organisasi kepemudaan desa lainnya," terangnya.
Perlu diketahui, SP Kobher merupakan wadah perempuan untuk memberi ruang gerak khususnya pada ibu-ibu muda, untuk mengasah kemampuan intelektualnya melalui pengajian interaktif, menggali potensi dalam rangka kemandirian ekonomi keluarga, dan mendorong keterlibatan ibu-ibu di ruang publik.
Lembaga ini digagas oleh Nyai Raudlatun pada tahun 2017. Awalnya lembaga ini adalah kumpulan ibu-ibu biasanya. Pada Juni 2018 beralih nama menjadi SP Kobher, yang terinsiprasi dengan sebuah maqalah “man jadda wa jada”.
Pelatihan yang diikuti oleh 22 peserta perwakilan 11 Desa di Kecamatan Rubaru menghadirkan dua narasumber yaitu Nurul Sugiyati dari Lembaga Perlidungan Anak (LPA) Sumenep, dan Irwan Sujatmiko dari Dinas Komunikasi dan Informatika setempat.
Pada sesi pertama, Nurul Sugiyati menyampaikan materi terkait dengan permasalahan kekerasan seksual, termasuk bagaimana upaya dan peran pemuda dalam pencegahannya.
Sementara pada sesi kedua, Irwan Sujatmiko menyampaikan materi tentang bagaimana sebaiknya berbagi informasi di media sosial. Termasuk juga hal etika bermedia sosial, dan bagaimana membuat konten kreatif dalam rangka menyuarakan sekaligus mengampanyekan pencegahan kekerasan seksual.
(Han)