Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 18-11-2008
  • 3039 Kali

dr. Dian Marcia Tolak Pasien, Keluarga Ancam Ngadu Ke IDI

News Room, Selasa ( 18/11 ),/b> Kemuliaan tugas seorang dokter spesialis anak yang bertugas di Kabupaten Sumenep, terpaksa tercoreng. Sebab, pelayanan yang diberikannya dinilai kurang profesional, bahkan terkesan sangat mengecewakan. Hal itu terlihat, ketika seorang pasien bernama Miahzaki (7), digendong ibunya Inni Farhianan (39), keduanya warga Desa Kebonagung, mendatangi rumah praktek spesialis anak dr. Dian Marcia, pasa Senin (16/11) malam, sekitar pukul 21.00 WIB, untuk memeriksakan pasien. Namun, ketika tiba di rumah praktek dokter tersebut, ternyata dokter yang bersangkutan menolak memeriksa pasien, dengan alasan praktek sudah tutup, dan menganjurkan supaya pasien dibawa kembali keesokan paginya. Padahal, kondisi pasien sudah parah, dengan suhu tubuh panas dan agak kejang-kejang. Tragisnya lagi, pada saat bersamaan, dokter Dian itu malah menerima dua orang tamu sales obat. Karena itu, ibu pasien yang juga selaku Ketua Front Perempuan Nasionalis Indonesia (FPNI) Sumenep, Inni Farhiana, mengaku kecewa atas perlakuan dokter Dian tersebut. “Saya sangat kecewa dan tidak terima atas tindakan dr. Dian itu. Apa memang begitu perilaku seorang dokter, bukannya mengutamakan pasien, tapi lebih mementingkan sales obat,”tegas Iin kepada wartawan di rumahnya, Jalan Raya Lenteng, Sumenep, Selasa (18/11). Iin menilai, tindakan dokter spesialis anak itu sangat tidak wajar, dan patut diberikan teguran. “Lawong saya ini orang kota saja sudah diperlakukan seperti itu, bagaimana kalau pasien yang datang dari pelosok,”ujarnya. Karena itu, pihaknya akan segera melayangkan surat kepada Ikatan Dokter Indonesia (IDI), untuk melaporkan kurangnya pelayanan yang diberikan dr. Dian Marcia, sebagai dokter spesialis anak. Sementara itu, Ketua IDI Sumenep, dr. Susianto, ketika dihubungi melalui jaringan selulernya mengaku prihatin terhadap perilaku yang tunjukkan dr. Dian. “Secepatnya saya tindak lanjuti laporan itu meski surat resmi belum diterima. Saya akan langsung memanggil dokter yang bersangkutan, untuk mengklarifikasi persoalan tersebut,”terangnya. Ia menjelaskan, seharusnya dokter itu tidak bersikap seperti itu, tapi harus mengedepankan keselamatan pasien, agar kasus kematian bisa ditekan sedemikin rupa. Menanggapi tudingan tidak sedap, dokter spesialis anak, dr. Dian Marcia, membantah, jika dirinya menolak pasien tersebut. “Semua tudingan itu tidak benar dan kebohongan besar. Saya menolak pasien itu sangat beralasan, yakni jam praktek sudah tutup dan saya harus cepat-cepat ke rumah sakit, karena ada pasien yang kondisinya sudah sekarat,”tegas dr. Dian, kepada wartawan di kompleks perumahan dokter, Jalan dr. Cipto, Sumenep, Selasa (18/11). dr. Dian menyatakan, jika pasien yang bersangkutan itu panasnya tidak tergolong tinggi dan tidak kejang-kejang. Padahal, dirinya tidak sedikitpun memegang kulit pasien. Namun, menurut dr. Dian, sebagai seorang spesialis dokter anak, tanpa memegang maupun memeriksa pasien sudah bisa mengetahui seberapa parah penyakit pasien. “Saya kan dokter spesialis anak, cukup melihat dari sorot mata saja sudah kelihatan, apakah pasien ini penyakitnya parah atau tidak. Setelah saya perhatikan beberapa detik, ternyata pasien tersebut panasnya biasa-biasa saja,”katanya. ( Nita, Esha )