News Room, Kamis ( 20/01 ) Cuaca ekstrem selama sepekan yang terjadi di perairan Sumenep, menyebabkan rumput laut yang ditanam petani di Desa Aeng Dake, Kecamatan Bluto, rusak. Akibatnya petani rumput laut merugi. Salah seorang anggota kelompok tani rumput laut di Desa Aeng Dake, Kawi, mengungkapkan, hasil panen rumput laut saat ini tidak memuaskan, jika dibandingkan pada tahun 2010 kemarin. Banyak yang rusak, karena diterjang gelombang laut dan dimakan hama laut. “Petani rumput laut sekarang merugi dan anjlok. Karena, hasil panen dengan biaya tanam tidak seimbang, banyak rumput laut yang rusak. Bisa dibayangkan, tanaman rumput laut untuk 3 keramba ukuran 10 x 10 meter, hanya menghasilkan 1 keramba. Padahal, pada tahun lalu, 1 keramba tanaman rumput laut ukuran sama, mampu menghasilkan 6-7 kwintal,”kata Kawi, ketika ditemui dirumahnya, Bluto, Sumenep, Kamis (20/01). Sementara, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sumenep, Ir. Salimin Saad Wachdin, M.Si mengungkapkan, kondisi rumput laut ketika angin kencang dan tingginya gelombang laut rusak, tapi tidak berpengaruh pada kualitas. “Sekarang harga rumput laut masih tergolong tinggi, yakni Rp. 12.000,00 lebih per-kilogram untuk rumput laut kering, dan Rp. 1.500-an rumput laut basah. Meski banyak yang rontok karena terpaan angin kencang dan gelombang laut, namun kualitasnya cukup bagus,”terang Salimin, ketika ditemui di kantornya, Kamis (20/01). Salimin berharap, petani rumput laut untuk tetap menjaga kestabilan harga, dengan menjaga kualitas yakni tidak mencampurkan bahan berupa apapun kedalam rumput laut. “Kalau sudah dicamput bahan lain, dipastikan mutu kualitas rumput laut Sumenep akan rusak. Apesnya lagi, tidak akan bisa tembus pasar internasional, karena merusak citra rumput laut Sumenep,”pungkasnya. ( Nita, Esha )