Media Center, Senin ( 08/05 ) Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur membagikan sebanyak 19.000 kelambu khusus anti nyamuk malaria di sembilan daerah yang akan difokuskan di antaranya Pacitan, Madiun, Blitar, Banyuwangi, Trenggalek,Tulungagung, Jember, Malang dan Sumenep.
Kepala Dinkes Jatim, Kohar Hari Santoso mengatakan, belasan ribu kelambu yang disebar merupakan bagian dari program Pemberian Kelambu Massal Fokus (PKMF). Sasaran pemberian kelambu yaitu penduduk yang tinggal di daerah dengan perindukan nyamuk Anopheles dan terdapat penderita malaria impor. PKMF dilakukan mulai akhir Maret sampai pertengahan April.
“Pembagian kelambu adalah salah satu upaya untuk melindungi masyarakat dari penyebaran penyakit malaria. Sebagian besar nyamuk malaria memang berada di kawasan pesisir Jawa Timur,” tutur Kohar, dikonfirmasi, Senin (8/5).
Kohar mengungkapkan, periode Januari – Maret 2017 di seluruh kabupaten/kota ditemukan sebanyak 65 kasus. Kasus-kasus tersebut merupakan penyakit malaria impor atau penularan orang dari provinsi lain yang datang ke Jawa Timur. Hingga saat ini, Dinkes Jatim belum menemukan kasus malaria dengan kategori penularan setempat (indigenous) atau penyakit malaria yang berasal dari Jawa Timur.
Dijelaskannya, kasus indigenous di Jawa Timur terakhir di tahun 2014, ditemukan sebanyak 80 penderita atau 13,3 persen dari total kasus 2014 yaitu sebanyak 608 penderita malaria. Kejadian malaria indigenous di Pulau Sadulang dan Pulau Samar, kedua pulau tersebut masuk wilayah Desa Sapeken Kecamatan Sapeken Sumenep.
Pada 2015, jumlah penderita malaria sebanyak 282 penderita malaria impor, tidak ditemukan adanya malaria indigenous, dengan kematian sebanyak 1 orang. Sedangkan 2016 ditemukan penderita malaria sebanyak 334 orang dengan kematian sebanyak 3 orang, semua kasus yang ditemukan adalah malaria impor.
Sebagai Informasi, beberapa tahun belakangan, terdapat tujuh negara yang telah disertifikasi oleh Direktur Jenderal WHO karena telah berhasil menghilangkan malaria yaitu Uni Emirat Arab (2007), Maroko (2010), Turkmenistan (2010), Armenia (2011), Maladewa (2015), Sri Lanka (2016) dan Kyrgyzstan (2016). Sertifikasi tersebut diberikan karena tujuh negara itu selama 3 tahun berturut-turut bebas dari kasus malaria. ( MC Jatim/non-luk )