DPRD Sumenep News : Kepedulian terhadap masalah pembangunan di Madura tampaknya tidak hanya dimonopoli masyarakat di Madura. Masyarakat Madura di Kairo Mesir juga memiliki kepedulian yang sama terhadap masa depan pembangunan Madura. Terbukti, Sabtu (21/9) lalu, bertempat di KBRI Kairo Mesir, Forum Kelurga Madura (Fosgama) menyelenggarakan dialog umum dengan tema Strategi Masa Depan Madura. Tidak tanggung-tanggung, dialog yang diselenggarakan dari pukul 15.00 sore hingga pukul 22.00 malam itu, mendatangkan Ketua DPRD Kabupatern Sumenep Drs, Abuya Busyro Karim, MSi untuk menjadi salah satu presentator dialog. Pada kesempatan itu Busyro Karim membawakan makalah setebal 31 halaman dengan judul Optimalisasi Pendidikan Sebagai Jawaban Pengembangan SDM di Madura. Selain Busyro Karim, presentator kedua adalah Atdikbud KBRI Kairo, Drs. Slamet Sholeh, M.ed, dengan judul makalah Masalah Pendidikan Kita dan Usaha Membangun SDM Bermutu. Sedangkan presentator ketiga, Ainul Abied Syah, IC membawakan makalah dengan judul Pendidikan Santri Berbasis Kompetensi Untuk memperkuat Daya Saing SDM Madura Pasca Suramadu. Acara dialog dibuka KBRI Kairo yang diwakili Atdikbud KBRI Drs. Slamet Sholeh, M.ed. Hadir sebagai peserta dialog, terdiri dari masyarakat Madura di Kairo, pelajar dan Mahasiswa Madura di Kairo. Dari jalannya dialog diperoleh kesimpulan, diantaranya, mengharapkan pada setiap Pemerintah Daerah di Madura untuk melaksanakan Restra terpadu. Harapan tersebut dimaksudkan agar masa depan pembangunan Madura lebih konprehensip dan terpadu. “Setiap Pemerintah Daerah di Madura diharapkan mempersiapkan anggaran pendidikan sebanyak 20 persen demi terciptanya penguatan keagamaan, dan live skill. Misalnya bidang peternakan dan bidang kelautan serta bidang-bidang lainnya,†ujar Busyro Karim via telepon Madura Kairo. Selain masalah restra dan pendidikan, dialog juga menyimpulkan pentingnya perhatian pemerintah daerah terhadap keberadaan pelajar dan Mahasiswa di Mesir. Karena terkait dengan masa depan Madura, Pelajar dan Mahasiwa Madura di Mesir merupakan salah satu aset pembangunan dan sebagai filter arus budaya luar yang masuk pasca Suramadu. “Peningkatan Ekonomi kerakyatan yang mencakup agrobisnis, termasuk masalah tanah yang berfungsi untuk menjaga kepemilikan abadi masyaraklat Madura sendiri, hingga masalah keterlibatan pihak asing agar tidak bertindak semena-mena dalam penguasaan tanah rakyat dan merugikan masyarakatâ€, jelas Busyro. Untuk itu, Busyro melanjutkan, masyarakat Madura dalam proses pembangunan yang berlangsung saat ini sedapat mungkin bisa memberdayakan masyarakat melalui keterlibatan dalam perencanaan, implementasi dan evaluasi pembangunan.(Mam, Bagian Humas dan Publikasi)