News Room, Rabu ( 26/11 ) Sungguh berat beban derita yang dialami Windi Apriliyah, warga Dusun Jasaan, Desa Aengbaja Kenek, Kecamatan Bluto. Sejak dilahirkan pada 4 tahun lalu, tepatnya 24 April 2004, balita yang merupakan putri ke 2 dari pasangan Badri Asmoni (44) dan Kudma (40), tidak mempunyai anus. Bahkan, akibat himpitan ekonomi yang pas-pasan, juga membuat ia harus menanggung penderitaan tanpa batas waktu. Apalagi harapan untuk mendapatkan pelayanan medis gratis melalui program jaminan kesehatan masyarakat miskin (Jamkesmas) sirna sudah. Sebab, namanya tidak masuk dalam data pemutakhiran Jamkesmas. Badri Asmoni, bapak Windi mengaku heran, kenapa anaknya tidak masuk dalam program Jamkesmas. Padahal, sebelumnya sempat menikmati program tersebut. “Kami sudah berusaha menanyakan pada pihak terkait, baik pada Badan Pusat Statistik, Capil, Askes dan Dinkes Sumenep, namun tak didapatkan solusi. Alasannya, si anak tidak masuk dalam pemutakhiran data Jamkesmas. Sehingga tidak lagi mendapatkan pelayanan kesehatan gratis,†terangnya lesu. Meski kecewa dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten yang tidak lagi memasukkan Windi dalam data Jamkesmas, Asmoni tetap berharap ada jalan atau pihak lain yang bisa membantu anaknya keluar dari penderitaanya, dan bisa hidup normal seperti balita lainnya. “Windi memang selalu berkeinginan hidup normal. Bahkan, sering mengajak untuk ke rumah sakit, agar anusnya cepat berfungsi. Tapi, karena tidak punya biaya, kami hanya bisa memberikan janji saja,†tuturnya. Sebelumnya, pada saat Windi berumur 40 hari, memang sempat menikmati program Jamkesmas, yakni selama tahap pembuatan saluran kotoran pada bagian perut kiri. Namun, anus buatan dokter RSU dr Soetomo tersebut belum berfungsi. Kontrol terakhir yang dilakukan akhir 2007 lalu ternyata Windi gagal ginjal. Sehingga butuh terapi 3 kali dalam sepekan. Untuk melaksanakan terapi, Windi tidak lagi mempunyai kemampuan, selain tidak mendapatkan program Jamkesmas, biaya transportasi Sumenep-Surabaya dinilai sangat memberatkan. Sehingga, kondisinya dibiarkan begitu saja. Uluran tangan dari para dermawan, memang dibutuhkan oleh keluarga buruh tani ini. Selama ini, Windi tidak pernah mengeluh sakit dengan saluran kotoran dibagian perut kanannya dan anus buatan yang belum berfungsi, tapi dia sering menangis karena ditolak dari kehidupan teman sebayanya. ( Nita, Adjie )