Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 02-08-2015
  • 1941 Kali

Destinasi Wisata Tersembunyi Di Desa Parsanga

News Room, Senin ( 03/08 ) Desa Parsanga secara administratif merupakan bagian dari Kecamatan Kota. Desa yang identik dengan makanan khas Sumenep “Apen” ini dulunya merupakan sebuah kota penting, tepatnya di sekitar abad ke-16, saat Sumenep masih berbentuk keraton yang dipimpin oleh Raden Ario Wonoboyo alias Pangeran Siding Puri.

Dari sisa-sisa bangunan kuno yang terlihat, di Desa ini dulunya pernah menjadi pusat pemerintahan atau pernah berdiri bangunan keraton. Setelah itu, sekitar abad ke-18, Parsanga dipecah menjadi tiga bagian desa, yakni Parsanga, Bangkal, dan Kacongan.

Parsanga atau asal katanya Sumur Sanga (Sumur Songo) yang ditanami parse (tunas kelapa), dulu juga menjadi lokasi tokoh-tokoh penting Sumenep yang namanya harum hingga kini. Mulai dari Sunan Paddhusan hingga Pangeran Katandur. Keduanya merupakan tokoh yang berasal dari luar Sumenep.

Secara genealogi, keduanya merupakan golongan saadah (kata jamak dari Sayyid, yakni sebutan bagi keturunan jalur pancaran laki-laki dari Rasulullah SAW).

Tokoh yang pertama adalah menantu Joko Tole, salah satu Raja Sumenep. Dan yang kedua adalah cucu dari Susuhunan Kudus, salah satu dari beberapa Waliyullah besar di Tanah Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Songo.

Tak hanya identik dengan wisata kuliner, Apen, rupanya di Parsanga juga tersembunyi tempat wisata yang menarik. Orang sekitar biasa menyebutnya bukit Terbhing, yang berasal dari kata Tebing. Bukit ini sangat menarik terutama bagi mereka yang suka tantangan. Kebanyakan yang mampir ke lokasi ini kalangan muda.

“Ini biasa dijadikan lokasi bagi anak-anak muda yang suka olahraga pagi. Tempatnya menarik dan masih alami,” kata Fatihul Huda (25 tahun), warga Desa Parsanga pada       News Room.

Meski akses jalan menuju bukit terbhing sudah lumayan baik, namun menurut Huda pengunjung yang berkendara motor agak kesulitan untuk memarkir kendaraannya.

Bukit ini memang terletak agak jauh dari jalan raya. Untuk menuju ke sana diperlukan waktu sekitar 5 – 10 menit ke arah utara jalan raya. “Ya, kesulitannya jika bawa sepeda motor. Harus dititip ke rumah warga terdekat, biar lebih aman. Harapan saya, ada perhatian dari pihak terkait nantinya, agar dikemas lebih baik. Karena Terbing ini termasuk aset wisata yang bagus” tambahnya. ( Farhan, Fer )