News Room, Rabu ( 27/06 ) Ratusan mahasiswa dari 2 aliansi, yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Forum Komunikasi Mahasiswa Sumekar (FKMS) Sumenep, Rabu (27/06) pagi, mengepung Kantor DPRD setempat. Aksi kesekian kalinya ini, untuk menolak eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi (Migas) di Sumenep. Awalnya aksi itu berlangsung aman, namun situasi memanas ketika para pendemo menerobos pagar kantor dewan. Akibatnya, aksi menjadi ricuh, saling dorong dengan petugas kepolisian tidak bisa dihindari, dan sebanyak 4 mahasiswa terluka dalam aksi tersebut, yang langsung dilarikan ke rumah sakit. Korlap aksi, Eko Wahyudi, dalam orasinya menyampaikan, bahwa tidak ada komitmen baik dari Pemerintah Kabupaten Sumenep, untuk menghentikan eksplorasi dan eksploitasi migas. “Kami hanya ingin semua kegiatan eksplorasi dan eksplotasi migas di Sumenep dihentikan, karena tidak ada kontribusi yang jelas pada masyarakat setempat, khususnya kepulauan. Ini adalah aksi yang kesekian kalinya. Kami akan terus melakukan aksi, selama Pemerintah Kabupaten Sumenep tidak ada komitmen yang sama, guna menolak eksplorasi dan eksploitasi migas tersebut,”kata Eko, ditengah-tengah orasinya, di depan Kantor DPRD Sumenep, Rabu (27/06). Dalam waktu bersamaan di kantor dewan sedang berlangsung Rapat Paripurna tentang Penyampainan Pemandangan Umum (PU) Fraksi-fraksi, yang dihadiri langsung Bupati Sumenep, Drs. KH. A. Busyro Karim, M.Si. Para aktivis meminta Bupati, Wakil Bupati dan Ketua DPRD Sumenep, untuk keluar menemuinya. Namun, keinginan itu tidak kunjung dipenuhi, sehingga situasi memanas. Sejumlah fasilitas taman di kantor dewan rusak, seperti lampu dan pipa air. Beruntung Bupati bersama Wakil Bupati dan Ketua DPRD Sumenep, mau menemui para pengunjuk rasa. Bupati mengatakan, dirinya menyambut baik aspirasi para mahasiswa. Namun, untuk menanda tangani komitmen menolak eksplorasi dan eksploitasi migas, secara kelembagaan tidak bisa dilakukan. “Kami tidak bisa menanda tangani komitmen tersebut. Bagi kami, penolakan eksplorasi dan eksploitasi migas ini, hanya akan menyengsarakan masyarakat Sumenep. Kami akan agendakan pertemuan dengan teman-teman mahasiswa, untuk audiensi. Nah, di forum itulah baru bisa disampaikan semua keinginan kalian,”kata Bupati Sumenep, dihadapan para pendemo, Rabu (27/06). Meski sudah mendapat penjelasan dari Bupati Sumenep, namun ratusan mahasiswa tidak beranjak dari gedung dewan. Justru aliansi dari FKMS masih berusaha menurunkan bendera setengah tiang, sehingga disikapi tegas oleh aparat kepolisian Sumenep. Puas beraksi, para aktivis tersebut akhirnya membubarkan diri dengan tertib. Dan, mereka berjanji akan terus melakukan aksi serupa. ( Nita, Esha )