News Room, Senin ( 21/12 ) Meski bukan sebuah lembaga besar, yang namanya langgar tentu memiliki peran penting dalam proses awal pembentukan pribadi anak, terutama yang berkaitan dengan masalah agama. Seperti mengenal dasar-dasar agama Islam, sejarah umum turunnya Islam, serta pengenalan lib-aliban atau lif-alifan (mengaji kitab suci al-Quran).
"Apalagi dalam sejarah kuna di Madura, khususnya Sumenep, yang dikenal ialah Langgar. Dulu tidak ada istilah pesantren. Tapi langgar. Seperti Langgar Kodas Ambunten, Langgar Toros Kebunagung, Langgar Loteng Sarsore, Langgar Barangbang, Langgar Tarate, Langgar Pandian, dan lain sebagainya," kata Drs K. Ismail Wongsoleksono, salah satu tokoh agama di Sumenep, sekaligus pengasuh Langgar dan TPQ al-Hikmah Bangselok, pada Media Center.
Dan memang, dari langgar-langgar yang disebut beliau itu yang selanjutnya menjadi cikal-bakal berdirinya sejumlah lembaga-lembaga besar di Sumenep. Meski tidak di lokasi yang sama, paling tidak dari langgar-langgar kunalah bertebaran tokoh-tokoh alim ulama, para arif billah, dan sejumlah pondok pesantren di wilayah Kabupaten Sumenep.
"Awalnya bermula dari langgar. Bermula dari belajar mengaji al-Quran. Makanya, dalam tradisi pesantren atau kalangan pesantren, umumnya guru ngaji atau dulu Kaji, Kiai Aji atau Kiai Ngaji, atau istilah populernya guru alif, menempati urutan penting dalam tawashul atau hadiah al-fatihah," tutur putra bungsu salah satu ulama kharismatik Sumenep, K. R. Wongsoleksono, Pandian ini.
Namun, mendirikan langgar al-Hikmah pada kurun 1990-an silam bukanlah cita-cita dari Kiai Ismail, melainkan tuntutan masyarakat sekitar yang ingin menitipkan putra-putrinya belajar mengaji. Tentu saja hal itu tidak bisa ditolaknya meski di tengah kesibukan beliau mengajar di sekolah umum. Ya, Kiai Ismail kala itu masih aktif sebagai guru di salah satu SDN di Desa Pangarangan.
"Ya tidak bisa saya tolak. Kebetulan memang di antara walinya adalah dulunya santri yang mengaji pada Kai (ayah; red) di Langgar Pandian," kata Kiai Ismail. ( Farhan/Fer )