News Room, Senin ( 02/06 ) Awal musim kemarau tahun ini, mulai berdampak terhadap panasnya air laut. Kondisi itu berakibat pada turunnya kwalitas rumput laut, seperti yang dialami petani di Desa Padike, Kecamatan Talango (Pulau Poteran). "Penurunan kwalitas rumput laut terjadi selama 2 pekan terakhir ini. Air laut sekarang mulai panas, sehingga rumput laut tidak bisa tumbuh dengan baik,"terang Sulaiman, salah seorang petani rumput laut di Desa Padike, Kecamatan Talango, Sumenep, Senin (02/06). Menurutnya, turunnya kwalitas rumput laut tersebut baru dialami pada panen bulan ini. Biasanya, dengan bibit 2 kwintal yang dibudidaya dengan sistem tali, mampu menghasilkan 4 hingga 5 kwintal rumput laut. "Tapi, akibat anomali cuaca, petani merugi, karena hasil rumput laut hanya 2 kwintal saja. Kerugiannya cukup banyak,"tuturnya. Untuk menghindari kerugian yang semakin besar, lanjut Sulaiman, pihaknya terpaksa memanen lebih awal. "Biasanya masa panen dilakukan selama 30 hari, tapi dengan anomali cuaca ini kami terpaksa panen dini yakni tiap satu minggu sekali,"ungkapnya. Ia menuturkan, modal yang dipakai dalam budidaya rumput laut sebesar Rp. 455.000,00, untuk satu kramba yang berisi 70 tali rumput laut. "Dengan modal itu, petani rumput laut hanya mendapat Rp. 360.000,00 pada panen rumput laut kali ini yang hanya 2 kwintal, dengan harga jual Rp. 1.800,00 per-kilogram untuk rumput laut basah. Ya kita merugi,"pungkasnya. ( Nita, Esha )