News Room, Rabu ( 21/12 ) Penggunaan pintu elektrik sebagai pembuka pintu tutup Dam Jepun di Kecamatan Lenteng merupakan langkah tepat untuk memudahkan pengaturan air, apabila terjadi banjir besar, sehingga semua waled yang teredam di dalam air bisa terkuras habis. Bahkan, alat ini lebih mudah penggunaannya, hanya dengan penekan tombol, pintu dam bisa terbuka dengan sendirinya. Kepala Dinas PU Pengairan Kabupaten Sumenep, Ir. H. Edy Rasyiadi, MM usai melihat langsung uji coba pintu elektrik di Kecamatan Lenteng, Rabu (21/12) mengungkapkan, jika dengan menggunakan pintu manual sebelumnya untuk membukanya masih harus dilakukan 4 hingga 5 orang. Sedangkan dengan pintu lektrik cukup dengan ditombol seorang petugas. “Jadi, ini sangat efektif dalam pengoperasian pintu dam utamanya ketika banjir tiba-tiba datang sementara petugas terbatas, sementara biaya pengadaannya hanya sebesar Rp. 40 juta,”ujarnya. Meskipun diakui dam jepun Lenteng ini merupakan kewenangan Propinsi Jatim, namun pihaknya juga sudah melalkukan MoU (Memorandum of Understanding) dengan Propinsi agar dam jepun bisa dioperiskan secara maksimal bagi masyarakat khususnya di daerah sekitar Kecamatan Lenteng dan sebagainya. Karena itu, jika memungkinkan nantinya pada APBD Tahun 2012 mendatang pihaknya juga akan menganggarkan pintu elektrik di beberapa dam besar di Sumenep. Seperti halnya Dam yang ada di Desa Kebunangung, karena keberadaannya sangat membantu petugas. Sementara Kepala UPT. Pengairan Kecamatan Lenteng, Sudarno menjelaskan, pintu elektrik dam jepun di Kecamatan Lenteng ini merupakan pertama di Madura, bahkan di Jatim. Karena itu pihaknya sangat berterima kasih kepada Bupati Sumenep dan pihak Legislatif yang telah menganggarkan pintu dan elektrik ini melalui dan PAK 2011. “Sebab, diperkirakan dalam setiap tahun walid yang melekat di dasar tanah dam jepun sebanyak 6.000 meter persegi. Sedangkan, dengan adanya alat pintu elektrik ini 50 persen waled di dasar air bisa terkuras,”tambahnya. Yang jelas tegas Sudarno dengan pintu dam elektrik tersebut dapat membantu petugas serta memudahkan petani dalam penyediaan air ketika musim kemarau. Karena tingkat pengaturannya juga dapat lebih optimal. Sebab, sebelumnya, bila banjir datang secara tiba tiba, kesulitan membuka pintu dam. Sehingga, walid yang terpendam di dasar air tetap lengket dan penyimpanan air tidak maksimal. ( Ren, Esha )