News Room, Jumat ( 28/10 ) Rusaknya rumput laut di Sumenep akibat cuaca panas makin melebar. Di Sapeken, petani rumput laut kian menjerit, karena mereka kesulitan mendapatkan bibit untuk menanamnya. Menurut Moh. Ali, warga Sapeken sekaligus Anggota DPRD Sumenep, rumput laut di Sapeken tidak bisa diandalkan lagi, kondisinya sangat memprihatinkan, sebab banyak yang rontok. “Bagaimana mau menanam ulang, mencari bibit saja sulit. Rumput laut yang ditanam petani itu banyak yang rontok, sehingga tidak bisa berkembang. Kerusakan ini karena faktor alam, akibat cuaca panas. Kemungkinan hanya 20 persen saja yang bisa bertahan,”kata Ali, di Sumenep, Jum’at (28/10). Ali mengungkapkan, dengan kerusakan rumput laut itu, warga pesisir seperti di Pulau Sasiil, Sadulang dan Tanjung Kiaok, Kecamatan/Pulau Sapeken, merugi puluhan juta rupiah. “Mereka saat ini hanya bisa memperbaiki kramba-kramba yang ada. Karena, tidak mungkin memaksakan diri untuk menanam rumput laut,” terangnya. Sebelumnya, kondisi serupa juga dialami petani rumput laut di Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Sumenep. Akibat angin kencang diwilayah perairan Sumenep, rumput laut didaerah setempat rusak, dan harga anjlok. Sekarang, harga rumput laut hanya Rp. 7.000,00 hingga Rp. 8.000,00 per-kilogram, padahal pada kondisi cuaca bagus harga rumput laut mencapai Rp. 15.000,00 hingga Rp. 19.000,00 per-kilogramnya. Bahkan, hasil panen menurun. Biasanya satu kali panen dalam satu keramba petani bisa menghasilkan 1 ton rumput laut. Namun saat ini, mereka hanya mendapatkan 5 hingga 7 kwintal saja. Melihat penderitaan petani rumput laut, Anggota Komisi B DPRD Sumenep, Juhari meminta instansi terkait, untuk secepatnya mengatasi persoalan tersebut. “Mestinya, saat ada masalah seperti saat ini Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumenep, sebagai leading sektornya cepet tanggap dan memberikan solusi,”ujarnya. ( Nita, Esha )