News Room, Rabu ( 27/11 ) Kecintaan terhadap seni budaya Indoensia khususnya budaya Madura, sangat penting karena yang pasti kalau Madura ingin maju, kebudayaan Madura harus dipertahankan. Meeskipun tidak mungkin sama dengan masa lalu, yang sepert aslinya. Karena era globalisasi memang tak bisa bisa dibendung dan sudah masuk ke semua lini. Hal tersebut ditegaskan Bupati Sumenep, KH. A. Busyro Karim, M.Si pada pembukan rangkaian kegiatan Dies Natalis STKIP PGRI Sumenep ke XXIX tahun 2013 di Aula Kampus setempat, Rabu (26/11). Menurutnya, yang perlu dilakukan saat ini mininal mempertahankan dan melakukan modifikasi seni budaya yang dimiliki seperti yang diinginkan masyarakat saat ini. “Karena dengan berbagai budaya yang dimiliki Madura sangat luar biasa, seperti istilah “asapo’ angin abental ombe’ yang maksidnya harus terus bekerja keras, kedian bhapa’ bhabhu’ guru rato dan sebagainya,”ujarnya. Karena itu, Bupati menegaskan khususna di Sumeep harus menjadi jiwa Madura, karena dari sejarahnya yang sempat dipimpin 35 Raja dan 15 Bupati, dengan usianya yang sudah 744 tahun wajar, jika perkembangan Madura dimulai dari Sumenep dimulai dari Sumenep, minimal menjadikan Sumenep sebagai gerbang Madura. Ditambahkan, semboyan dari Sumenep untuk Madura dari Madura untuk Indonesia, karena itu melalui seminar budaya yang dilaskanakan dalam rangkai kegiatan dies natalis STKIP ini diharapkan suarakan Madura jangan hanya Kabupaten masing-masing. Sehingga akan menjadi gelombang luar biasa yang bisa mempengaruhi kebijakan pusat sebagainya. Sementara Ketua STKIP PGRI Sumenep, Dr. Musaheri, M.Pd menjelaskan, melalui rangkaian Dies Natalis kali ini menjadi media evaluasi, media ekspresi sekalian media untuk menguatkan semua itu, sehingga STKIP PGRI Sumenep bisa besar karena orang lain, dan semua bisa turut membesarkan STKIP ini. “Dengan rangkaian kegiatan dies natalis ini termasuk aktifitas lainnya seperti lomba-lomba dan semacamnya semua dilaksanakan dengan kerjsama semua pihak yang mendukung kegiatan kami,”tambahnya. ( Ren, Esha )