News Room, Kamis ( 29/11 ) Di tengah persaingan industri mode saat ini, industri batik tetap eksis menjadi basis industri mode yang menguntungkan. Sejak dulu, Madura khususnya Kabupaten Sumenep, memang dikenal memiliki industri batik yang sangat berkualitas, baik dari motif maupun pilihan warnanya yang khas Madura. Hal tersebut diungkapkan Bupati Sumenep, KH.A.Busyro Kharim, M.Si ketika memberikan sambutan pada acara dialog Kebijakan Clean Batik Initiative (CBI) dengan tema “Industri Lokal Berbasis Kualitas Lingkungan“ yang dilaksanakan Clean Batik Initiatif (CBI) dan Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman (EKONID) di ruang rapat Arya Wiraraja Kantor Bupati Sumenep, Kamis (29/11). Menurutnya, saat ini, batik tidak hanya menjadi konsumsi bagi sebagian daerah, tetapi telah menjadi trend nasional dan internasional. Demikian juga, batik juga tidak hanya dipakai mereka yang status sosialnya rendah, tetapi batik telah menjadi primadona bagi semua kalangan baik kelas atas maupun menengah. Bahkan, banyak pemimpin dunia, begitu menyukai batik. “Itu harus dimanfaatkan betul oleh para pengrajin batik di Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep. Sebab, daya tarik dan pesona batik Madura yang bernuansa tulis, telah menjadi kesukaan semua kalangan,”ujarnya. Apalagi tegas Bupati, dengan makin mudahnya akses transportasi ke Madura pasca beroperasinya Suramadu, industri batik tidak akan pernah sepi peminat. Karena itu kehadiran kehadiran ECONID dan CBI dapat membantu pemasaran batik produksi Kabupaten Sumenep di pasar Internasional, khususnya di Jerman sebagai homebase dari EKONID. Bahkan, kedepan Pemerintah Kabupaten Sumenep telah menyusun langkah strategis, agar industri batik di Kabupaten Sumenep ini tidak hanya terpusat di satu daerah tertentu, tapi juga bisa berkembang di daerah lain, sehingga produksi batik memberi hasil yang beraneka ragam sesuai dengan basis lokalnya. Sementara itu kegiatan dialog tersebut dihadiri Amalia Yasya Parijata dari CBI, dan Dra. Rismawarni Marshal dari Pusat Produksi Bersih Kementerian Lingkungan Hidup. Dalam paparannya program CBI yang dilaksakan di Kabupaten Sumenep dan sekitarnya selama 3 bulan, telah diikuti secara aktif oleh 47 IKM untuk beralih ke produksi bersih dan pewarna alam melalui 5 work shop dan pendampingan teknis. Ternyata, banyak tanaman yang ada di Madura yang bisa dimanfaatkan untuk produksi batik. Dari hasil riset ditemukan ada 3 tanaman yang memilki kualitas menghasilkan warna yang cocok untuk batik, yaitu mangas, gokar dan sirsir, dari sisi motif juga demikian, transformasi perkembangan mode telah berdampak pula terhadap motif batik. ( Ren, Esha )