Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 12-07-2021
  • 1642 Kali

Cara Membangun Masyarakat Madura Di Tengah Pandemi COVID-19

Media Center, Senin ( 12/07 ) Stereotip tentang masyarakat Madura yang dikenal sebagai suku dengan tipikal pola pikir arogan, keras kepala, terbelakang, malas berpikir namun giat bekerja atau merantau menjadi sebuah budaya yang masih membekas hingga saat ini.

Dikutip dari artikel yang ditulis Ahmad Fikri di NU Online Sumenep, bahwa stereotip tersebut tidak bisa langsung dibenarkan, namun juga tidak bisa ditolak secara gamblang. 

Dalam artikel disebutkan, adanya ketidakpercayaan masyarakat Madura akan Virus Corona atau COVID-19. Hal tersebut ditunjukkan dengan sangat malasnya mereka untuk memakai masker dan sebagainya. Tidak hanya itu, bahkan sebagian menentang adanya kebijakan penerapan Protokol Kesehatan (Prokes).

“Madura ini anti dengan yang namanya Virus Corona, kalau takut sama Virus Corona jangan datang ke Madura,”.

Begitulah kata-kata yang keluar dari salah satu penduduk asli Madura kepada tamunya saat itu. Dengan hal tersebut, setidaknya stereotip tentang kasar dan keterbelakangan orang Madura dapat dikuatkan dengan sampel sikap di atas.

Lanjut, di satu sisi dengan ketidakpercayaan orang Madura akan COVID-19 tidak bisa kita sepenuhnya disalahkan. Kebanyakan dari mereka adalah masyarakat golongan menengah ke bawah dalam hal ekonomi. Pedagang di pasar hingga pedagang kaki lima juga banyak menolak saat ditertibkan petugas karena merasa dirinya dirugikan jika patuh dan percaya pada isu pandemi. 

Hal ini disebabkan dengan beredarnya kabar hoaks yang tampak meyakinkan dan ditambah dengan latar belakang pendidikan yang minim, sehingga menyebabkan dirinya susah membedakan isu yang benar dan kenyataan yang sebenarnya. 

Salah satu cara untuk menghadapi pandemi ialah edukasi masyarakat, yakni membangun kesadaran masyarakat tentang betapa pentingnya menjaga diri sendiri dan orang sekitar dari virus yang bisa dilakukan dengan taat Protokol Kesehatan (Prokes). Dibutuhkan pula adanya Komunikasi yang baik antara penyampai dan penerima yang sangat urgen keberadaannya untuk memperlancar edukasi di masyarakat secara umum dan masyarakat Madura secara khusus. 

Penting pula gerakan langsung dari para tokoh agama, yakni para Kiai, mengingat kultur budaya dan kearifan lokal suku Madura yang dengannya terbentuk kelas tertentu untuk dipatuhi titahnya adalah Bappa’-Babbu’, Guru, Rato merupakan tingkatan dimana dengan hal tersebut tercipta siapa yang lebih pantas untuk diikuti. 

Bappa’-Babbu’ ialah kedua orang tua yakni bapak dan ibu. Patuh kepada keduanya adalah kepatuhan paling utama sebelum mematuhi lainnya. Guru, adalah guru baik guru spiritual maupun keilmuan.

Arti dari guru disini bisa memiliki makna yang luas. Guru masyarakat kita kenal dengan tokoh agama atau kiai, masuk dalam kelas guru yang dimaksud yaitu pengaruh seorang kiai di tengah masyarakat Madura sangatlah besar. Apalagi seorang kiai tadi berkarismatik dan terkenal menjauhi urusan yang bersifat duniawi, ikut dalam kontestasi politik praktis misalnya. Tipe kiai tersebut ketika berbicara pasti didengar dan ketika bicaranya tadi mengandung perintah pasti akan dituruti dan dipatuhi.

Sedangkan Rato, yang mempunyai arti pemerintah atau kalangan pejabat. Perintah dan titah dari seorang rato bagi masyarakat Madura merupakan titah terendah. Bukan tidak pantas untuk dipatuhi, akan tetapi ia masih di bawah derajat orang tua dan guru. Jika bertentangan antara orang tua dan pemerintah maka yang diambil adalah apa yang dari orang tua. Begitu pula ketika bertentangan antara guru dan Pemerintah maka yang diutamakan adalah hal yang datangnya dari guru.

Dalam kasus pandemi ini, Pemerintah dianggap terlalu banyak melakukan blunder dan kesalahan di mata rakyat. Sehingga dengan kesalahan dan kekurangan tadi membuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah terkikis. 

Maka dari hal ini, kehadiran kiai sangat dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat. Kiai sebagai sosok yang didengar titahnya mau tidak mau harus melakukan edukasi betapa cepat menularnya pandemi dan butuh usaha untuk mencegahnya, yakni salah satunya dengan patuh Protokol Kesehatan dan vaksinasi. 

Dalam kasus ini mengapa bukan figur orang tua yang diutamakan? Sebab, jangkauan orang tua hanya lah anak-anaknya sedangkan kiai yang ditokohkan sangat jauh lebih luas. Adapun orang tua ialah wajib mengedukasi putra-putrinya. Sebab hanya dengan seperti itulah masyarakat Madura bisa patuh. Wallahu a’lam. ( PCNU-SMNP/Ismi,Fer )