Sumenep-Infokom News Room : Akibat parahnya kerusakan hutan dan minimnya pelestarian lingkungan merupakan salah satu penyebab semakin terbukanya terjadinya bencanan alam, terbukti penebangan hutan secara liar tanpa memikirkan dampak negatifnya, bencana banjir tidak dapat dielakkan. Penegasan itu disampaikan Bupati Sumenep, KH. Moh Ramdlan Siraj, SE, MM ketika meresmikan pencanangan gerakan sejuta pohon dan puncak penghijauan dan konservasi alam nasional serta gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan di Desa Benaresep Timur Kecamatan Lenteng, Rabu (08/12). Dikatakan pula sebagai antisipasinya agar kerusakan alam itu kondisinya tidak semakin parah, bahkan memberi manfaat pada kehidupan, maka, pemerintah dan masyarakat untuk secepatnya mengambil sikap dengan jalan rehabilitasi.Sebab alam yang bersahabat merupakan nafas kehidupan.� Keperdulian untuk menutup lahan yang terbuka bukan sekedar tugas pemrintah namun harus dilakukan bersamam-sama dengan masyarakat agar penangulangan bencanan alam dapat berjalan sukes.�tegasnya. Namun demikian menurut Bupati alangkah baiknya jika kondisi alam itu dipelihara sebaik mungkin, bahkan lebih baik mencegah dari pada merehabilitasi kerusakan lingkungan. Sementara itu Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Ir Hari Sudarmaji mengatakan jenis tanaman kehutanan dan perkebunan yang dipersiapkan untuk GSP sebanyak 1 juta bibit,dan GN-RHL sebanyak 220 ribu bibit yang ditanam diwilayah Kab Sumenep baik diwilayah daratan maupun kepuluan. Dijelaskan pula kegiatan Dinas Hutbun, Dinas Pertanian dan Perhutani serta partisipasi pengusaha swata antara lain untuk Dinas Hutbun mengembangkan tanaman jati, mahoni, glodokan, acasia, bakau, kelapa, jambu mente, cabe jamu, rambutan dan durian. Sedangkan Dinas pertanian mengembangkan tanaman jati dan mahoni. Dan pengusaha swasta pengembangannya dilakukan untuk tanaman sengon laut.Sementara itu jenis dan jumlah jumlah tanaman yang ditanam dilokasi pencanangan GSP untuk jati sebanyak 500 bibit, akasia sebanyak 5.000 bibit.( Yasik, Im )