News Room, Sabtu ( 29/05 ) Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumenep, tidak hanya menjadi kegiatan rutin yang bersifat seremonial belaka, namun sebagai sarana instropeksi dan sarana mawas diri terhadap program dan kegiatan NU, baik yang telah dilaksanakan maupun yang masih direncanakan. Bupati Sumenep, KH. Moh. Ramdlan Siraj, SE, MM pada acara pembukaan Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumenep di Pondok Pesantren (Ponpes) Mathali’ul Anwar Desa Pangarangan, Kecamatan Kota Sumenep Sabtu (29/05) mengatakan, kegiatan Konfrensi Cabang Nahdlatul Ulama (NU) diharapkan bisa memacu semangat dan memantapkan misi NU sebagai wadah organisasi Islam dalam memberikan pencerahan dan pembinaan umat. Selain itu, dalam mengemban misi dan visinya, NU menjadi organisasi yang kredibel, profesional dan dapat menciptakan harmonisasi hubungan dengan organisasi lainnya secara optimal, baik secara internal maupun eksternal. â€ÂHubungan kedalam, NU harus membina rasa persatuan dan kesatuan, rasa kebersamaan serta soliditas dan solidaritas antar sesama anggota, agar misi yang diemban bisa terintegrasi dengan baik, tepat guna dan tepat sasaran. Sedangkan hubungan keluar, menjalin kerjasama dan kemitraan dengan pemerintah, organisasi kemasyarakatan serta beberapa elemen masyarakat lainnya dalam mengemban amanat terwujudnya tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,â€Âungkapnya. Bupati menyatakan, penyelenggraan Konferensi tersebut tidak hanya berdasarkan pada kepatuhan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) semata, namun penyelenggaraan Konferensi itu atas dasar substansinya, agar bisa menghasilkan sesuatu yang baik. Sebab, dalam kegiatan Konferensi Cabang NU ini ada beberapa agenda pokok, seperti eveluasi pertanggung jawaban pengurus sebelumnya, yang dilakukan, sehingga diharapkan, peserta konferensi dalam melakukan evaluasinya harus obyektif dan santun. â€ÂKami minta peserta Konferensi, dalam mengevaluasi pertanggung jawaban program pengurus sebelumnya, harus obyektif, sebab untuk mengukur keberhasilan program dengan persentase tidak mudah, dan santun dalam menyampaikan sebuah pendapat,â€Âungkapnya. ( Yasik, Esha )