Sumenep-Kominfo News Room : Keberhasilan Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) periode 2007-2008 merupakan bukti kepercayaan masyarakat internasional terhadap kinerja Indonesia. Hal itu terlihat dari suara mayoritas yang diperoleh Indonesia dalam pemungutan suara pada Senin pagi waktu setempat. "Setelah sebelumnya mengklaim mendapatkan dukungan 145 negara dari 192 negara anggota PBB, ternyata Indonesia berhasil memperoleh suara mayoritas dan memperoleh dukungan 158 negara," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Desra Percaya, Selasa (17/10) kemarin. Menurut Desra, sejak mencalonkan diri pada 1999, Indonesia telah aktif melakukan lobi ke negara-negara anggota PBB, Indonesia juga mengirimkan utusan khusus ke sejumlah negara. Setelah pengunduran diri Korea Selatan praktis saingan Indonesia dalam pemungutan suara adalah Nepal. "Kita aktif melakukan lobi di New York hingga menjelang pemungutan suara," ujarnya. Sementara itu sebelum keberangkatannya mengikuti Sidang Majelis Umum PBB di New York bulan lalu, Menlu Hassan Wirajuda mengatakan, bahwa rekam jejak perjalanan Indonesia di mata internasional sangat baik. Indonesia, lanjut Hassan, aktif terlibat dalam sejumlah pasukan perdamaian PBB, memiliki kontribusi besar dalam menjaga kestabilan kawasan Asia Tenggara melalui ASEAN dan berpartisipasi aktif dalam penyelesaian kasus-kasus internasional. Desra mengemukakan, keberhasilan Indonesia menjadi anggota tidak tetap DK PBB memberikan peluang bagi Indonesia untuk membawa suara dunia ketiga, Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan Gerakan Non-Blok (GNB). "Indonesia juga dapat berperan lebih aktif dalam penyelesaian konflik Timur Tengah," ujarnya. Reformasi DK PBB juga merupakan salah satu agenda Indonesia sebagaimana yang dikemukakan oleh Menlu-RI dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB di New York, September 2006 lalu. DK PBB terdiri dari lima anggota tetap pemegang hak veto dan 10 anggota tidak tetap yang memiliki masa tugas dua tahun. Indonesia akan mulai bertugas Januari 2007 menggantikan Jepang yang akan berakhir masa tugasnya pada Desember 2006. ( KCM, Esha )