News Room, Sabtu ( 15/08 ) Upaya banting setir yang dilakukan masyarakat nelayan di kepulauan Sapeken, dari penghasilan sebelumnya yang hanya banyak menggantungkan nasibnya dengan menangkap ikan, dan berganti dengan membudidaya rumput laut. Merupakan upaya yang tidak sia-sia. Sebab, dalam 3 tahun berjalan masyarakat utamanya dipesisir pantai sudah tidak bingung lagi ketika menghadapi cuaca dilaut yang kurang bersahabat untuk melakukan penangkapan ikan. Setidaknya, ada kegiatan lain yang bisa dilakukan dan mendapatkan hasil yang lumayan. Seperti yang diungkapkan Kepala Desa Tanjung Keaok Kecamatan Sapeken, H. Sairuddin, jika saat ini hampir 90 persen masyarakat nelayan disana beralih pada budidaya rumput laut, karena hasilnya lebih dapat diharapkan ketimbang melaut. Bahkan untuk kebutuhan lauk-pauk, terkadang masyarakat di Desanya membeli ke pulau lain, seperti Desa Pagerungan Besar dan Sase’el, meski dengan harga yang cukup mahal, sekitar 50 persen ketimbang ketika masyarakat disana masih berprofesi nelayan. “Ternyata pilihan mereka benar-benar menuai hasil yang memuaskan. Bayangkan, jika mereka sebelumnya harus membanting tulang berbantal ombak berselimut angin di lautan lepas untuk memancing ikan, saat ini ketika angin kencang lebih baik istirahat dulu dan menikmati hasil rumput lautnya. Hal tersebut juga berdampak sangat besar terhadap perilaku masyarakat yang cenderung melakukan perbuatan melanggar hukum, karena ulah sebagian nelayan yang frustasi, terkadang terbujuk menggunakan potasium untuk mendapatkan ikan tangkapan lebih banyak. Namun belum juga memberikan penghasilan yang cukup bagi nelayan di kepulauan, terkadang mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatannya dibalik terali besi. Dijelaskan Sairuddin, yang juga sebagai pengusaha rumput laut ini, dalam setiap bulan pihaknya bisa mengirim sebanyak 200 ton rumput laut kering, dengan harga beli sekitar Rp. 30.000,00 per-kilogram di petani. Bahkan terkadang malah sering kekurangan stok dari kebutuhan yang dipesan pihak pabrikan diluar. ( Ren, Esha )