News Room, Jumat ( 05/11 ) Kalau ditanya mengenai acara favorit di tivi saat ini, mulai dari anak usia pra-TK sudah banyak yang pintar menjawab. Diawali dari serial film kategori anak, dewasa hingga renta, tak terkecuali jargon-jargon iklan, telah mereka hafal dan paham dengan baik.
Namun, hampir dipastikan mereka akan bengong saat dikenalkan pada budaya leluhurnya, semisal kesenian rakyat topeng dalang. Di sinilah kemudian tampak jelas adanya krisis jati diri. Sebuah efek dari kurang seriusnya perhatian terhadap moralitas lokal bangsa di era kini. Apa sebabnya ? “Globalisasi.
Budaya global telah merambah semua sendi kehidupan di semua tataran masyarakat, tak peduli apakah itu di perkotaan maupun di pelosok. Salah satu contoh, produk kecanggihan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ialah kotak ajaib bernama televisi. Dua puluh empat jam tanpa henti menyajikan tanyangan-tayangan menarik dan membuat enggan para pemirsa beranjak dari tempat duduk,”kata pemerhati budaya di Sumenep, Rabiatul Adawiyah, S.Pd., pada News Room.
Rabiatul menambahkan, bukan hanya televisi membuat orang enggan bersosialisasi sesama, telepon seluler dan media maya (internet) yang muncul belakangan menjadikan dunia semakin sempit, sesempit hamparan taplak meja yang menjadi alas benda yang dilahirkan teknologi itu.
Budaya tradisional yang dulu menjadi ruh kehidupan dalam masyarakat, kini telah menjadi budaya instan yang lebih individualistik, asosial, terjebak moralitas asing serta kecenderungan terbawa pengaruh materialisme dan pragmatism,”tambah guru di SMPN 1 Saronggi ini.
Perubahan-perubahan besar terjadi di masyarakat, budaya komunal dan guyub menurut Rabiatul, hanya menjadi kenangan yang tersimpan dalam memori. Siapapun, bangsa-bangsa di belahan bumi manapun telah termasuki virus yang namanya budaya global. Tak ada satu pun yang mampu menahannya, karena memang demikianlah sejarah peradaban manusia yang senantiasa bergerak dinamis dan cepat dalam mengisi rongga-rongga jaman.
Salah satu budaya yang sudah hampir tak dilirik kalangan muda dewasa ini ialah kesenian topeng dalang.
Padahal, sebagaimana ragam warisan budaya Sumenep Madura lainnya, kesenian yang satu ini juga tak kering dari nilai-nilai positif. Nilai-nilai positif ini tak bisa lepas dari akar budayanya yang mandiri.
Meski ada sedikit pengaruh dari kultur Jawa (sebagai salah satu sumber budaya keraton di Sumenep dan Madura pada umumnya), namun identitas akar budaya Sumenep begitu kuat dalam keseharian masyarakatnya. Seperti sifat orang Madura yang lebih egaliter dan terbuka, berbeda dengan sifat orang Jawa yang mempunyai sifat “ewuh pakewuh”. Ungkapan ”bangok jhuba a e adak etembang jhubak e budi”, lebih baik jelek di depan daripada jelek di belakang, menunjukkan keberanian orang Sumenep (Madura pada umumnya) dalam bersikap tegas. Meski begitu orang Sumenep tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan fenomena yang tergambar dalam istilah “paek jhak dhuli palowa, manis jhak dhuli kaloduk”.
“Dan pada akhirnya, budaya kita juga tak lepas dari kerendah hatian yang tercermin dari adagium “asel tak adhina asal”, yang mengingatkan kita untuk tidak lupa diri ketika menjadi orang yang sukses dan selalu ingat akan asal mula keberadaan diri,”pungkas Rabiatul. ( Farhan, Esha )