Sumenep-Kominfo News Room : Kebanyakan orang tua sekarang mungkin sudah banyak meninggalkan kebiasaan untuk mendonggeng pada anaknya. Padahal hal tersebut salah satu wujud kasih sayang yang harus dilakukan, agar si anak tidak salah arah. Sebab pengaruh dongeng terhadap anak ternyata sangat besar, yakni dapat memunculkan minat sastra serta mengajarkan budi pekerti yang luhur. “Salah satu sebab banyak orang telah meninggalkan budaya mendongeng adalah kemajuan iptek. Dari kecil anak sudah dibiasakan untuk menonton televisi�, kata Suharmono, ketua panitia Lomba Dongeng Bahasa Jawa Guru TK se Jawa Timur, yang ditemui di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Selasa (16/05) kemarin. Upaya untuk mengangkat budaya mendongeng serta menghidupkan kembali bahasa Jawa, Biro Mental Spiritual Setda Propinsi Jawa Timur menyelenggarakan lomba dongeng Bahasa Jawa kreatif dan Inovatif bagi guru TK se Jawa Timur pada 28 Mei 2006 mendatang di Museum Mpu Tantular Sidoarjo. Dalam hal ini, Biro Mental menfasilitasi terselenggaranya acara karena ini merupakan tanggungjawab Pemerintah Propinsi Jawa Timur dalam mengembangkan dan mengangkat kembali budaya dongeng dan Bahasa Jawa di masyarakat. “Budaya mendongeng saat ini masih banyak digunakan guru TK dalam mengajar murid-muridnya. Tapi dalam lomba ini kita ingin guru-guru tersebut menyuguhkan dongeng yang baru dan inovatif, jangan hanya cerita si Kancil dan Ande-ande Lumut saja. Kalau itu anak-anak juga sering dengar�, ungkap mantan Ketua Paguyupan Pengarang Sastra Jawa ini. Saat ini Bahasa Jawa untuk daerah perkotaan sudah jarang lagi dipergunakan dalam percakapan sehari-hari, tapi di daerah pedesaan, masyarakat masih kental menggunakan, bahkan di daerah Lamongan dan Gresik untuk khotbah Jumat masih banyak menggunakan Bahasa Jawa. Ditambahkannya, saat ini peluang kerja bagi Bahasa Jawa sudah mulai banyak, salah satunya adanya program acara di stasiun TV swasta yang menyuguhkan berita berbahasa Jawa. Selain itu, kalau kita ingin berwiraswasta di pedesaan, harus mampu berbahasa Jawa agar dimengerti oleh masyrakat setempat. Dalam lomba nanti, peserta akan mendongeng dengan durasi 10-15 menit, dengan tema bebas, boleh menggunakan alat peraga, dan bahasa yang digunakan juga bebas (Bahasa Jawa dialek Surabaya, Lamongan, dan sebagainya). Sedang penilaiannya akan dilihat dari kreativitas, ekspresi, nilai edukatif serta penampilan. “Kita optimis, peserta yang akan mengikuti lomba ini akan banyak jumlahnya. Pemenang juara I, II, dan III akan dikirim untuk mengikuti Kongres Bahasa Jawa di Semarang, akhir juni mendatang�, tuturnya. ( Info Jatim, Esha )