News Room, Kamis ( 04/07 ) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD Sumenep, merelokasi sekitar 150 orang pengungsi tanah terbelah dan ambles di Dusun Karongkong, Desa Matanair, Kecamatan Rubaru. Kepala BPBD Sumenep, Drs. Moh. Fadillah, MM menjelaskan, awalnya ratusan pengungsi itu ditempatkan di posko yang berada sekitar 3 kilometer dari lokasi tanah terbelah dan ambles. Namun, sekarang terpaksa direlokasi ke balai desa setempat, karena lokasi jauh dan aman dari terpaan longsor. “Relokasi itu kami lakukan, demi keamanan korban mengingat lokasi pengungsian sebelumnya dianggap mulai rawan longsor,” katanya. Selama tiga hari terakhir ini, lanjut Fadillah, intensitas hujan cukup tinggi. Itu menyebabkan pergerakan tanah terbelah dan ambles semakin cepat. Apalagi tanah terbelah sekarang melebar ke arah selatan tepatnya perbatasan dengan Desa/Kecamatan Batuan. “Sesuai laporan dari petugas yang berada dilokasi kejadian, bahwa tanah ambles di Dusun Karongkong, Desa Matanair, Rubaru, sudah mencapai 10 meter dari sebelumnya 6 meter. Dan, pergerakan tanah terbelah sudah menyentuk Desa Batuan,”terangnya. Ia memperkirakan, saat ini warga selain pengungsi korban tanah terbelah dan ambles juga mulai bersiap-siap meninggalkan rumahnya. Sebab, mereka khawatir terjadi longsor. “Dipastikan jumlah pengungsi akan bertambah, karena warga yang berada diradius 200 meter keatas juga mulai siaga mengungsi ketempat yang lebih aman,”ungkapnya. Sebelumnya, fenomena alam mengejutkan terjadi hampir bersamaan di 2 lokasi di Sumenep, yakni di Dusun Kecer Laok, Desa Kecer, Kecamatan Dasuk, dan Dusun Karongkong, Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, Sabtu (15/06) lalu. Tanah di 2 lokasi ini tiba-tiba terbelah dan ambles. Beruntung tidak ada korban dalam peristiwa tersebut. Namun lahan-lahan pertanian milik warga yang tengah ditanami cabe, kacang tanah, dan ketela pohon, rusak dan ambles. Sedangkan empat rumah di Desa Matanair roboh, dan dua lainnya dindingnya retak-retak terkena imbas getaran tanah sebelum terbelah dan ambles. Menurut keterangan ahli geologi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Petrus Mariono, amblesnya tanah tersebut disebabkan adanya rongga dan sungai bawah tanah yang menghubungkan dua desa tersebut. Guyuran hujan terus menerus dinilai mempercepat kondisi pergerakan tanah.( Nita, Esha )