Media Center, Jumat ( 13/07 ) Agenda bakti situs makam ibunda Pangeran Le'nan tidak berhenti di Ahad (08/07) kemarin. Hari ini, Jumat (13/07) babak kedua bakti situs digelar lagi. Kali ini diprakarsai oleh anak-cucu atau ahli waris Pangeran Le'nan, khususnya di kampung Masegit Laju, Kelurahan Kepanjin. Sekitar 15 orang yang secara sukarela melanjutkan agenda yang berupa bersih-bersih area makam yang sebelumnya dipenuhi rumput liar dan dedaunan itu.
"Alhamdulillah, para famili khususnya keturunan Pangeran Le'nan, lebih banyak lagi yang hadir dibanding bakti situs pertama," kata Hairil Anwar, salah satu yang hadir dalam bakti situs kedua tersebut pada Media Center.
Untuk selanjutnya, menurut Hairil, para ahli waris akan melakukan koordinasi, khususnya dengan pihak penjaga Asta Tinggi, terkait dengan pengelolaan dan perawatan situs tersebut. "Nanti sesepuh yang akan koordinasi, " kata salah satu anggota Tim Ngoser (Ngopi Sejarah) Sumenep ini.
Terpisah, Kepala Asta Tinggi, RB. Ruska mengatakan, bahwa sejak beberapa tahun lalu, area Banasokon, yang termasuk di dalamnya ialah lokasi situs Ibu Pangeran Le'nan itu sudah masuk kawasan Asta Barat yang tersendiri penjagaannya. Asta Barat merupakan sebutan bagi kawasan makam Pangeran Le'nan, salah satu putra Sultan Abdurrahman yang terkenal. "Kami dan Yapasti tetap mendukung agenda pelestarian sejarah ini, namun perlu rembuk bersama, khawatir ada pihak yang tersinggung jika langsung ditangani penjaga Asta Tinggi, " katanya.
Seperti yang diketahui, penemuan makam ibu Pangeran Le’nan sebenarnya sudah sejak awal tahun 2016 lalu. Berawal dari info salah satu warga Kebunagung yang suka tirakat di cungkup berpintukan akar pohon besar itu. Info awal, dari hasil bisikan gaib, di situ adalah makam ibu Sultan Abdurrahman, namun setelah dicek ke lokasi oleh salah satu anggota Tim Ngoser, berdasar keterangan batu nisan diketahui jika itu adalah pasarean ibu Pangeran Le’nan, atau salah satu isteri Sultan Abdurrahman.
Rabu (04/07) kemarin Tim Ngoser yang beranggotakan M. Farhan Muzammily, Ja’far Shadiq, Hairil Anwar, dan Imam Alfarisi melakukan survey bersama. “Melihat keadaan yang memprihatinkan itu, Ngoser tergerak untuk membersihkan cukup berempat saja dengan mencari jasa tukang pembersih rumput atau semacamnya. Namun rencana itu berubah, justru banyak yang kemudian ikhlas membantu,” kata Ja’far, salah satu anggota Ngoser lainnya.
Nah, Ahad (08/07) itu, agenda non formal yang digagas oleh komunitas kecil yang concern dalam diskusi ringan mengenai sejarah Sumenep tersebut dilaksanakan dan berjalan lancar. Agenda itu bahkan menarik beberapa komunitas pemerhati sejarah dan para ahli waris keturunan Pangeran Le’nan untuk ikut dalam kegiatan bersih-bersih di area situs. Dua komunitas yang suka rela ikut dalam bakti situs itu ialah Songennep Tempo Doeloe, dan Fotografi Wonderful Madura. ( Han, Esha )