News Room, Kamis ( 31/12 ) Rasa kehilangan tokoh panutan seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang wafat kemarin sore, ternyata tidak hanya dirasakan oleh kalapangan Kiai dan Tokoh Ulama dan masyarakat lainnya di seluruh tanah air. Namun, bentuk berkabung atas kehilangan tokoh NU itu juga dirasakan oleh para santri di Ponpes An-Nuqirah dan Ponpes Al-Farhan di Desa Moncek Tengah Kecamatan Lenteng. Para Santri An-Nuqirah yang merupakan Ponpes Puteri ini melaksanakan Sholat Ghaib tadi malam, sedangkan ratusan santri putera di Ponpes Al-Farhan melaksanakan Sholat Ghaib tadi pagi. Hal itu dilakukan untuk memberikan dukungan moral bagi keluarga yang ditinggalkan cucu pendiri NU itu. “Kami merasa kehilangan sosok ulama yang dapat membuka alam reformasi di Indonesia ini, dan kami sebagai warga Nahdliyin juga tetap menggelorakan semangat juang Gus Dur sebagai tokoh pejuang pluralisme.â€Âujar KH. Kurdi H.A Pengasuh Ponpes Al-Farhan dan An-Nuqirah ini. Politisi asal Partai Demokrat (PD) Sumenep, yang saat ini duduk sebagai wakil rakyat di DPRD Sumenep ini mengaku tidak melihat sosok Gusdur sebagai sosok pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Namun, sosok beliau yang bertarung melawan gelombang bersama para Nahdliyin merupakan hal penting yang tidak bisa terhapus dari sejarah. Karena itu, seluruh pengasuh, Ustad dan Ustadah serta para santri sengaja hari ini diliburkan, dalam rangka hari berkabung atas wafatnya pengasuh Ponpes Tebu Ireng Jombang ini. Semoga Amal baiknya diterima disisi-Nya. Amin. ( Ren, Esha )