News Room, Rabu ( 18/02 ) Berbagai upaya dilakukan para Calon Anggota Legislatif (Caleg), baik calon anggota DPRD Kabupaten, Propinsi dan DPR-RI. Mereka mulai menggenjot senjata untuk memenangkan Pileg pada 9 April 2009 mendatang. Beragam cara yang mereka lakukan, mulai dari memberikan bingkisan, melakukan kegiatan sosial berupa hitanan massal dan semacamnya. Bahkan, ada yang mempromosikan dirinya melalui perkenalan gambarnya yang dicapkan ke produk tempe, rokok, korek dan sebagainya. Hingga ada yang rela membuat jalan paving, dan masih banyak upaya lainnya. Salah seorang warga Desa Parsanga, Suhartini mengaku salut dengan berbagai upaya para Caleg. Sebab, tiba-tiba ada pedagang tempe yang memberikan dagangannya secara gratis dengan menempelkan foto salah seorang caleg. Dengan senang hati para ibu-ibu yang biasanya membeli, hari itu bisa grtais. Menurutnya, hal itu sebuah upaya yang bisa diterima secara akal dan perasaan. Hitung-hitung bisa dibilang bersedekah, dibandingkan dengan Caleg yang hanya menempelkan besar-besar foto dirinya dipojok-pojok jalan, maupun ditempel pada pohon-pohon. Padahal, masyarakat belum tentu banyak yang tahu siapa di foto itu, sehingga mubazir uang yang dikeluarkan. “Namun, kalau memang mau bersedekah, jangan hanya menunggu ketika ada kepentingan untuk pencalegan, syukur nantinya kalau tetap ingat pada rakyat yang memilih mereka, kalau kemudian mereka menganggap sudah membeli suara rakyat, ini yang berbahaya,â€Âujar Suhartini. Menurut salah sorang Caleg asal PKB, H. Ruqi Abdilla, SH, pihaknya sangat menyambut dengan tangan terbuka atas Keputusan Mahkamah Konstitusi, yang menurutnya, keputusan yang sangat bijak, karena pada Pemilu kali ini pilar-pilar demokrasi benar-benar di tegakkan. Berbeda dengan komentar yang diungkapkan Suryanto, warga Desa Kalianget Timur. Menurutnya, perilaku para Caleg yang cenderung boros dan loyal ketika ada kepentingan menunjukkan sifat ambisiusnya. Hal itu malah dikhawatirkan akan menjadi bumerang bagi dirinya ketika tidak terpilih, uang terkuras habis, sehingga keadaan dirinya malah tidak stabil. Bahkan, apabila terpilihpun, mereka biasanya sudah merasa bisa membeli suara rakyat. Karena itu, Suryanto mengajak masyarakat untuk cerdas memilih caleg dengan tidak memandang pemberian maupun janji-janji dusta. Namun, memilih orang yang sebelumnya memang diketahui memiliki kemampuan, kecerdasan dan loyalitas sosial yang tinggi kepada masyarakat. ( Ren, Esha )