News Room, Selasa ( 04/08 ) Harga komoditas beras menjadi penyumbang inflasi tertinggi di Sumenep sebesar 2,25 persen dengan andil 0,13 persen. Pada bulan Juli 2015 Sumenep, mengalami inflasi sebesar 0,86 persen. Laju inflasi ini melampaui Jawa Timur yang juga terjadi inflasi sebesar 0,51 persen, namun masih dibawah nasional dengan inflasi sebesar 0,93 persen.
"Selain besar komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi adalah daging sapi, cabai rawit, daging ayam ras, daging ayam kampung, udang basah, cumi-cumi, angkutan antar kota, daun bawang, dan hati sapi,"kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep, Suparno, Selasa (04/08).
Ia menuturkan, dari tujuh kelompok pengeluaran, enam diantaranya mengalami inflasi, dan satu kelompok lainnya terjadi deflasi. "Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi, yakni bahan makanan sebesar 2,75 persen, perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,26 persen, sandang 0,66 persen, kesehatan 0,12 persen, pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,06 persen; transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,36 persen,"terangnya.
Sedangkan kelompok makanan jadi, minuman rokok dan tembakau mengalami deflasi sebesar 0,02 persen. "Tingkat inflasi tahun kalender dari Januari hingga Juli 2015, Sumenep sebesar 1,23 persen, Jawa Timur 1,74 sebesar persen, dan nasional sebesar 1,90 persen,"paparnya.
Suparno mengungkapkan, untuk tingkat inflasi tahun ke tahun dari Juli 2015 terhadap Juli 2014, Sumenep sebesar 6,46 persen, Jawa Timur 6,81 persen, dan nasional sebesar 7,26 persen.
"Dari 8 Kota, Indeks Harga Konsumen (IHK) Jatim, inflasi tertinggi dialami Jember, sebesar 0,94 persen, diikuti Sumenep sebesar 0,86 persen; Madiun 0,83 persen, Probolinggo 0,70 persen, Banyuwangi 0,62 persen, Malang 0,57 persen; Kediri 0,52 persen, dan inflasi terendah terjadi di Surabaya, sebesar 0,38 persen,"ungkapnya. ( Nita, Esha )