Media Center, Selasa ( 14/09 ) Seorang guru kelas 1 SDN Batuputih Laok III, Fathorrahman, yang sempat viral dan diundang dalam acara di stasiun televisi nasional karena cara mengajarnya yang terbilang unik dengan mendatangi siswa-siswanya ke rumahnya, karena keterbatasan orang tuanya yang tidak memiliki HP Android, selalu berusaha membuat siswa-siswanya tetap senang dan nyaman mengikuti pelajaran.
Bahkan, Kak Avan panggilan akrab guru yang suka mendongeng dengan ditemani dua bonekanya, Kia dan Koko, terus mencoba berbagai inovasi agar anak-anak tertarik, sehingga bisa digiring untuk membaca lebih intens.
"Menghadapi siswa kelas awal juga tidak bisa menghilangkan bahasa tradisi anak yakni bahasa daerah. Karena kalau full berbahasa Indonesia mereka justru kadang tidak mengerti. Namun ketika ditanya dengan bahasa daerahnya mereka lebih cepat menjawabnya," ungkap Kak Avan, Selasa (14/09/2021).
Menurut guru yang juga Fasilitator Daerah (Fasda) Inovasi Kabupaten Sumenep ini, tidak ada alasan untuk tidak memberikan pelajaran dengan menyenangkan meskipun di tengah banyak keterbatasan. Seperti media belajar yang Kak Avan bawa adalah papan tulis mini sederhana dari karton dibungkus plastik.
Munculnya ide itu diakui Kak Avan, saat dia berjalan ke rumah siswa dan tidak ada papan tulis, akhirnya punya inisiatif membawa papan mini dengan menggunakan spidol yang tidak permanen. Selain praktis dan mudah dibawa kemana-mana serta barangnya juga murah meriah. Jadi apapun untuk menjadikan agar anak suka membaca harus dilakukan.
Apalagi saat ini generasi kita dicap generasi yang memiliki budaya baca rendah. Avan menilai justru sebaliknya, jangan-jangan sebenarnya mereka bukan malas membaca, tapi malah sebenarnya minat bacanya justru tinggi hanya saja akses bahan bacaan bagi mereka yang rendah.
“Ini bisa saya buktikan di sekolah sendiri bukan bicara anak-anak di luar, ternyata saat saya membawa buku bacaan mereka sangat senang dan berebut untuk pinjam karena mau dibaca di rumahnya,” ujar Avan.
Hal itu Avan buktikan langsung kepada peserta didiknya yang kebetulan selama ini banyak memegang kelas awal, pada waktu menjawab beberapa pertanyaan dari para peserta Talkshow dengan tema Belajar Seru Anti Bosan yang dilaksanakan.
Untuk mencoba seberapa besar minat baca siswanya tersebut, guru yang juga banyak menulis buku dan pegiat literasi ini menawarkan siswanya boleh pinjam buku dengan gratis dengan syarat kalau selesai membaca dan ingin pinjam buku lainnya harus bisa menceritakan isinya. Dan ternyata tidak sampai beberapa hari, mereka bisa menceritakan walaupun dengan Bahasa Madura atau bahasa daerah.
“Anak-anak bisa menceritakan kembali bahkan dengan bahasa daearah, ternyata tidak hanya mereka saja yang membaca namun juga melibatkan orang tua mereka yang kemudian ditranslit dalam Bahasa Madura,” tandasnya.
Berikutnya mereka semakin semangat dan senang membaca, bahkan mulai ada komunikasi intens dengan orang tua yang akan turut semangat menemani anak membaca, karena setiap kali mereka bisa kembali menceritakan akan mendapat jatah pinjaman buku lainnya begitu seterusnya.
Diakui Avan jika buku pengayaan yang ada di buku cerita bergambar dalam modul kurikulum darurat sebenarnya sangat banyak. Hanya saja kendala sekolah yang memiliki keterbatasan untuk ngeprint membutuhkan biaya. Dan perlu kreativitas guru untuk melaksanakan itu, salah satunya dilakukan dengan menayangkan buku bacaan itu melalui laptop.
“Dengan keterbatasan fasilitas yang tidak dimiliki sekolah, diperlukan inovasi dari guru sekolah, bagaimana mengajak siswa belajar sambil bermain dan terus melakukan upaya untuk tetap mengajar siswa di tengah keterbatasan seperti halnya di masa pandemi saat ini,” tandasnya. ( Ren, Fer )