Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 06-09-2015
  • 2732 Kali

Beberapa Faktor Penghambat Perkembangan Bahasa Madura

News Room, Senin ( 07/09 ) Bahasa Madura tak hanya sekadar bahasa daerah (vernacular language), melainkan juga lingua franca. Penuturnya tak hanya di 4 Kabupaten di pulau Madura. Namun, hampir separuh dari bagian timur pulau Jawa (daerah tapal kuda) juga menggunakan bahasa Madura, sehingga di setiap sekolah dari daerah tersebut juga diajarkan materi bahasa Madura.

"Di tahun 1981 saja, penutur Bahasa Madura diperkirakan sudah mencapai sekitar 9 juta orang,"kata Rabiatul Adawiyah, salah seorang pemerhati bahasa Madura pada News Room.

Namun, kini Bahasa Madura mulai sedikit terpinggirkan, seakan ada yang menghambat perkembangan bahasa ini. Menurut Rabiatul, ada beberapa faktor yang menjadi penghambat utamanya. "Bahasa akan berkembang dengan baik, apabila penuturnya taat asas. Disamping itu, juga jika merasa bangga menggunakan bahasanya pada setiap kesempatan,"kata salah seorang guru di SMPN 1 Saronggi ini.

Ironisnya, saat ini kenyataan di lapangan sehari-hari sebagian penutur Bahasa Madura sudah tidak lagi peduli terhadap kebenaran kaidah bahasanya. Faktor ini dipengaruhi lingkungan. Tidak sedikit orang tua yang kurang bangga, justru jika tidak menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Indonesia. "Seperti panggilan papi-mami misalnya,"kata Rabiatul.

Faktor lainnya menurut Rabiatul, ialah kurangnya perhatian terhadap pertumbuhan dan perkembangan Bahasa Madura. Hal itu terlihat dari rasa malu atau kurang percaya diri menggunakan Bahasa Madura dalam kesempatan yang menguntungkan. "Seperti di saat akad nikah, resepsi perkawinan dan lain sebagainya,"tambahnya.

Faktor lain yang agak memprihatinkan, ialah saat timbul rasa malu jika disebut sebagai orang Madura. "Padahal justru kebanyakan yang di rantau sana, malah bangga menunjukkan atribut ke-Madura-annya, seperti memakai busana pesak hitam-hitam, kaos loreng merah putih, membentuk perkumpulan sesama komunitas Madura, dan lain-lainnya yang merupakan kebanggaan Madura asli,"tutupnya. ( Farhan, Esha )